Rabu, 09 Mei 2018

MOMENTUM UNTUK HIJRAH MENJADI LEBIH BAIK



Pergantian tahun merupakan salah satu ukuran pergantian waktu yang tak dapat dielakkan. Waktu yang sudah bergerak tak dapat ditahan dan diundurkan lagi. Dalam waktu terkandung jejak perjalanan manusia yang akan diputar ulang kelak di hadapan pencipta waktu, allah swt.
Dan tidak terasa, bulan demi bulan telah berganti, tahun demi tahun pun berlalu. Kaum muslim kembali memasuki bulan muharram, yang menandai datangnya kembali tahun yang baru, dan kali ini memasuki tahun baru 1439 hijriyah.
Untuk itulah, pergantian tahun hijriyah ini adalah waktu yang tepat sebagai momentum bagi kita semua untuk melakukan introspeksi dan mawas diri (muhasabah) terhadap semua yang telah kita perbuat, sekaligus sebagai sarana untuk memantapkan komitmen dan tekad kita semua untuk “berhijrah menuju ke arah yang lebih baik dan bermanfaat, melalui penguatan aqidah, ibadah, akhlaq, ilmu, dan ekonomi kita.
Apabila pada tahun 1438 hijriyah kita masih sering melakukan kekurangan, marilah kita kejar kekurangan itu dengan semangat memperbaiki diri, baik dalam beribadah, beramal, bekerja, dan bermasyarakat. Marilah kita upayakan hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini, agar kita beruntung.
Sebagai insan yang bersinggungan langsung dengan dunia pendidikan baik sebagai guru, tenaga kependidikan, orang tua/wali murid, siswa atau hanya pemerhati pendidikan kita bisa menjadikan momentum hijriyah ini untuk berbenah. Bisa diawali dengan memperbaiki perkspektif kita tentang pendidikan yang seideal mungkin dengan yang rasululloh teladankan sesuai dengan yang allah perintahkan. Pendidikan merupakan suatu upaya untuk memajukan perkembangan budi pekerti dan intelektual seseorang. Seperti yang kita tahu, orang tua masa kini begitu antusias menyekolahkan anak-anaknya dengan harapan agar anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang unggul dan cerdas. Namun, ada satu hal yang acap kali terabaikan dalam aspek pendidikan yakni pengajaran agama. Banyak keluarga yang terkesan “melupakan” betapa pentingnya mengajarkan nilai-nilai keagamaan pada anak sejak dini. 
Padahal pendidikan agama merupakan modal dasar setiap anak untuk memahami dan mengarungi kehidupan ini.  Ungkapan bahwa “mendidik anak sedari kecil adalah ibarat mengukir di atas batu sangat tepat untuk menggambarkan pentingnya mendidik anak sedini mungkin.  Mendidik anak yang masih kecil membutuhkan kesabaran karena harus terus mengulang-ulang konsep yang hendak ditanamkan.  Namun begitu konsep tersebut sudah masuk, maka ia akan tertancap dengan kuat di sana, sulit hilang seperti ukiran di atas batu. Oleh karena itu apabila pendidikan agama dilakukan dengan baik sedari kecil, maka anak tersebut akan tumbuh menjadi manusia yang memiliki landasan karakter dan moral yang kuat.
Bagi anak, pendidikan yang tepat pada usia dini akan menjadi pondasi keberhasilannya pada masa yang akan datang.  Pendidikan agama tidak pelak lagi menjadi suatu kebutuhan bagi anak usia dini untuk membentuk kepribadian dan karakter islami.  Secerdas apapun seorang anak, tanpa memiliki pendidikan agama sebagai landasan hidupnya, maka hidupnya di dunia tidak ada nilainya. 
Untuk itu, peran lembaga pendidikan yang sangat memperhatikan pendidikan keagamaan seperti al irsyad al islamiyyah purwokerto sangatlah diperlukan oleh masyarakat untuk memberikan bekal agama yang cukup bagi generasi muda di indonesia dalam upaya  untuk membentuk kualitas sumber daya manusia indonesia yang islami, sehat, cerdas, sejahtera, berdaya saing dan berbudaya berlandaskan iman dan taqwa.
Dalam menjalankan fungsinya di bidang pendidikan, ada misi dakwah yang diemban. Dakwah merupakan tugas suci dan abadi bagi segenap umat islam. Melalui dakwah, islam dapat menyebar dan mengakar ke seluruh pelosok dunia. Melalui dakwah pula, peran islam dalam membina dan mengembangkan masyarakat menuju cita-cita ideal ajaran islam yang rahmatan lil-‘alamin dapat terwujud.
Dakwah itu sendiri sebenarnya adalah proses komunikasi. Dakwah tanpa komunikasi tidak akan mampu berjalan menuju target-target yang diinginkan, demikian komunikasi tanpa dakwah akan kehilangan nilai-nilai ilahi dalam kehidupan.
Untuk itulah, proses dakwah mestinya disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat sekitar.  Dengan demikian, bagi juru dakwah akan lebih mudah dalam menyampaikan dakwah dan pesan yang disampaikan menjadi mudah dipahami oleh sasaran dakwah. Maka dakwah tidaklah mesti harus disampaikan  dalam bentuk ceramah langsung di mimbar-mimbar, namun bisa juga  dilaksanakan melalui berbagai kegiatan positif di sekolah seperti, kegiatan pementasan seni, outdoorstudy, membuat karya tulis maupun karya rupa, semuanya bisa dimasukkan nilai-nilai keislaman sebagai bekal pendidikan agama bagi semuanya.
Kesemuanya itu berlandaskan pada satu pedoman yang senantiasa dipegang dalam hidup. Sebagai pedoman dan petunjuk kehidupan umat islam,  al-quran adalah kitab suci yang dapat dijadikan acuan dalam menjalani kehidupan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karena didalam al-quran terdapat petunjuk-petunjuk dan arahan tentang berbagai cara bergaul dengan manusia, bahkan bergaul dengan alam semesta sehingga terjadi harmonisasi antara sesama makhluk allah yang hidup dimuka bumi ini. 
Bagi umat islam al-qur’an merupakan sumber hukum, rambu-rambu bagi umat manusia. Didalam al-quran terdapat banyak aturan, tuntunan,  peringatan dan teguran bagi manusia agar senantiasa berbuat kebajikan dan tidak  melakukan perbuatan tercela serta kerusakan dimuka bumi, sebab semua perbuatan yang tidak baik hanya akan mendatangkan kerugian bagi manusia sendiri, baik di dunia maupun di akhirat.
Selain itu, al-qur’an juga hadir sebagai penyejuk hati, karena di dunia ini kita kadang dihadapkan pada berbagai ujian dan cobaan. Adanya ujian dan cobaan hidup tersebut membuat hati dan jiwa manusia resah, gelisah, dan gundah gulana. Dalam kondisi yang demikian itu, manusia harus kembali kepada jalan allah, yakni kepada al-quran yang didalamnya terdapat penyejuk dan penenang keresahan jiwa.
Oleh karena itu kemampuan membaca, mempelajari, dan memahami isi kandungan al-qur’an menjadi sebuah keharusan bagi kaum muslimin yang ingin menjalankan keislamannya secara baik dan benar.
Salah satu cara yang efektif untuk menumbuhkan kecintaan terhadap al-quran adalah dengan cara mengenalkan al-qur’an kepada anak-anak kita sejak dini. Mendidik anak yang masih kecil memang membutuhkan kesabaran karena harus terus mengulang-ulang konsep yang hendak ditanamkan.  Namun begitu konsep tersebut sudah masuk, maka akan tertancap dengan kuat di sana, sulit hilang seperti ukiran di atas batu. Oleh karena itu apabila pendidikan agama dilakukan dengan baik sedari kecil, maka anak tersebut akan tumbuh menjadi manusia yang memiliki landasan karakter dan moral yang kuat.
Melalui metode belajar yang mudah, praktis dan menyenangkan terutama bagi anak- anak, tentu akan memancing minat dan menggugah semangat mereka untuk mempelajari al qur’an sebagai sumber pedoman hidup utama bagi umat islam. Hal tersebut bila dapat berjalan dengan optimal tentu cita-cita untuk membentuk generasi qur’ani yang sehat, cerdas, kuat, berkarakter dan berdaya saing berlandaskan iman dan taqwa dapat segera terwujud. Aamiin. (Imalia)



Translate