Tampilkan postingan dengan label My Articles. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Articles. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Februari 2020

Huznudzon ya… Selalu Memancarkan Positif




          Kita adalah apa yang kita pikirkan. Ya, pikiran kita turut membentuk siapa diri kita. Karenanya pastikan bahwa yang kita pikirkan adalah hal yang baik-baik, dari pikiran yang baik ini akan keluar perkataan yang baik dan perbuatan yang baik. Sebagaimana ceret pasti mengeluarkan apa yang ada di dalamnya, ceret berisi madu apabila dituang akan keluar madu begitupun ceret berisi air kotoran maka yang air kotoran pulalah yang keluar ketika dituang. Itu sudah bisa dilogika, tidak akan mungkin pernah menjadi sebaliknya.
          Sebagaimana firman Allah SWT, dalam QS Al Hujurrat: 12, tentang perintah untuk senantiasa berprasangka baik, “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.” (QS Al-Hujurat ayat 12).
          Prasangka itu lahir di pikiran kita, dan betapa pentingnya untuk selalu mempunyai pikiran yang baik agar terhindar dari dosa prasangka. Memang kita tidak dihukumi selama itu masih dalam pikiran kita, akan tetapi seperti yang sudah dijelaskan diawal bahwa apa yang ada dipikiran kita akan menjelma menjadi perkataan dan perbuatan. Oleh karena itu menjaga pikiran kita untuk selalu berprasangka baik terhadap apapun yang kita alami sangat penting, agar kebaikan pulalah yang akan kabul menjadi nyata.
          Berikut adalah lima tips agar kita selalu bisa mengkondisikan pikiran kita untuk selalu berbaik sangka, baik terhadap orang lain, terhadap peristiwa yang kita alami, terhadap sesuatu yang kita dengar dan kita lihat atau terhadap apapun di dunia ini.
Pertama, adalah percaya. Memberikan kepercayaan kepada orang lain adalah salah satu cara kita memupuk prasangka baik terhadapnya. Pun demikian dengan peristiwa yang kita alami, baik atau buruknya kita harus senantiasa memberikan kepercayaan bahwa semuanya adalah yang terbaik dari Allah, sebab bisa jadi kita menyukai sesuatu padahal itu buruk bagi kita. Bisa jadi kita membenci sesuatu padahal sesuatu tersebut baik bagi kita. Jadi yang seharusnya kita biasakan adalah pasrah dan percaya sepenuhnya pada ketentuan Allah atas kita.
Kedua, adalah berhenti dari berpikir tidak baik. Hal-hal yang buruk tidak akan pernah muncul dalam mimpi sekalipun jika kita berhenti berpikir buruk. Inti dari tips yang kedua ini adalah berhenti dari berpikir yang tidak-tidak, berangan-angan atau berandai-andai bahkan sampai berhalusinasi atau paranoid. Sederhananya untuk lebih memudahkan dalam memahami tips kedua ini, dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut, apakah dengan memikirkan hal-hal yang buruk, hal-hal tersebut akan bisa kita atasi dan lewati dengan baik? Apakah dengan berangan-angan yang buruk hal baik akan datang kepada kita. Jadi sudahlah, berpikir baik saja, dan panjatkan itu sebagi doa, kita tidak akan pernah tahu doa kita yang mana akan dikabul oleh Nya.
Ketiga, Berdoa. Masih berhubungan tips sebelumnya, kekuatan doa itu sungguh luar biasa, sebab yang bekerja di dalamnya adalah kuasa Allah, dimana tidak ada satu kekuatanpun di dunia yang bisa melampaui kuasanya. Mintalah kepada Allah agar selalu diberikan pikiran dan prasangka yang baik terhadap segala sesuatu. Tidak ada cara yang lebih baik dan lebih elegan selain meminta kepada yang Maha Memberi. Bisa jadi pinta kita tidak serta merta kabul seketika, namun doa yang sudah dilangitkan akan menempati tempatnya dan akan menemui takdirnya apakah dikabul atau digantikan denga takdir yang lebih baik sesuai kehendak Allah atas hambaNya.
Keempat, memilih teman yang baik dan kondusif. Terkadang pikiran kita banyak dipengaruhi oleh lingkungan tempat kita bergaul. Teman-teman disekeliling kita turut memberikan kontribusi yang signifikan pada cara berpikir kita. Perkataan dan pemikiran mereka sedikit banyak turut mempengaruhi cara berpikir, berbicara dan bertindak kita bahkan tanpa kita sadari. Tips ini bukan bermaksud untuk memilih-milih teman, namun lebih kearah kehati-hatian agar kita tidak terjerumus kedalam pergaulan yang tidak baik. Jika kita bergaul dengan teman-teman yang selalu berpikir, berkata dan bertindak positif maka kita pun akan terkondisikan demikian. Sebagaimana dijelaskan dalam HR Bukhori dan Muslim yang menjelaskan Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat  seorang penjual minyak wangi dan seorang padai besi. Penjual minyak wangi mungkinn akan memberimu minyak wangi darinya, dan kalau pun tidak engkau akan tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya.
Kelima, dan yang terakhir adalah kita tidak boleh membohongi dan menipu orang lain. Dengan mengkondisikan diri kita berlaku demikian akan membuat kita menjadi orang yang selalu berpikir baik, karena kita tidak pernah mencoba menjahati orang lain.
          Demikian kelima tips agar kita senantiasa berhuznudzon dan tidak pernah bersuudzon. Selalu pikirkan segala sesuatu itu baik karena kita bisa melihat kebaikan dari segala sesuatu. Yuk selalu berpikir positif. (Imalia Din Indriasih)

Artikel ditulis 24 September 2018
Gambar diambil 25 November 2019
Hubungan isi artikel dengan gambar? Senyumin ajah...

Minggu, 08 Oktober 2017

CATATAN SEMINAR PARENTING SABTU, 27 AGUSTUS 2016


Alhamdulillah pagi ini mendapatkan ilmu lagi yang sangat mahal harganya, ceritanya diminta menjadi MC sekaligus moderator (maruk temen ya?) untuk acara seminar parenting yang diselenggarakan untuk walimurid, sambil mengantarkan seminar, Alhamdulillah jadi juga catatan yang merangkum isi seminar tadi… semoga bermanfaat.
Seminar parenting orientasi orang tua yang mengambil tema “Kiat Orang Tua Membimbing Anak Dalam Beradaptasi Dan Sosialisasi Di Lingkungan Sekitar” di bawakan dengan apik oleh Ibu Dyah Astorini, M.Psi bertempat di Aula SD Al Irsyad Al Islamiyyah 01 Purwokerto pada hari Sabtu, tanggal 27 Agustus 2016. Dilatar belakangi oleh berbagai hal permasalahan seputar sosialisasi dan adaptasi anak seputar sekolah, baik dengan orang tuanya, teman-temannya maupun gurunya.
Dihadiri oleh lebih dari seratus orang tua yang memenuhi ruangan aula. Dari awal seluruh walimurid sudah sangat antusias, dapat dilihat dari banyaknya hal yang disampaikan dan ditanyakan para orang tua kepada pembicara dari awal acara. Pertanyaan orang tua ada yang terkait dengan tema seminar yakni tentang sosialisali dan adaptasi anak terhadap lingkungannya dan ada juga yang keluar tema, sepertinya memang berangkat dari rumah sudah berbekal pertanyaan untuk dicarikan solusinya. Yang kesemuanya dikupas tuntas oleh nara sumber dengan jawaban yang memuaskan orang tua, bahkan sampai waktunya habis pun para orang tua masih antusias mengulik lagi persoalan seputar parenting ini.
Adapun rangkuman isi seminar parenting orientasi orang tua yang mengambil tema “Kiat Orang Tua Membimbing Anak Dalam Beradaptasi Dan Sosialisasi Di Lingkungan Sekitar” bersama Ibu Dyah Astorini, M.Psi yang dibuka langsung oleh Kepala Sekolah SD Al Irsyad Al Islamiyyah 01 Purwokerto, Usatadz Sudrajat, S.Sos bisa disimak sebagai berikut:
Yang pertama kali harus kita sadari bersama adalah bahwa anak-anak kita bukan orang dewasa dalam bentuk mini, jadi jangan pernah samakan mereka dengan kita, mereka tidak punya cara pikir yang sama dengan orang dewasa, anak-anak memiliki dunia dan pemikirannya sendiri. Berangkat dari kesadaran inilah maka tips parenting ini bisa dikembangkan lebih jauh lagi. berikutnya adalah memahami akan pentingnya sosialisasi bagi anak-anak kita, mengapa sosialisasi itu penting bagi anak-anak kita. Jawaban dari pertanyaan inilah yang akan membuat kita sebagai orang tua, mau tidak mau harus memberikan perhatian lebih untuk mengajari anak-anak kita tentang keterampilan bersosialisasi dengan lingkungannya. Sosialisasi menjadi penting bagi anak karena yang menyumbangkan porsi paling besar dalam kesuksesan seseorang dalam kehidupannya adalah keterampilan sosialisasi dan kemampuan mengelola emosi bukan kemampuan akademisnya.
Dalam kerangka berpikir inilah maka muncul tips-tips terbaik dalam membekali anak-anak kita keterampilan bersosialisasi. Bagaimana sikap terbaik kita sebagai orang tua ketika menghadapi anak-anak dengan berbagai persoalannya. Satu contoh kasus yang dilontarkan oleh salah satu kakak dari siswa mengenai adiknya yang sangat cerewet di rumah akan tetapi ketika sudah diluar rumah menjadi sangat pendiam dan introvert. Mungkin kita pernah menemui kasus yang sama dengan siswa yang lainnya juga. Bisa jadi perbedaan sikap antara ketika di rumah dan di luar rumah ini dikarenakan anak merasa tidak percaya atau merasa tidak aman ketika berada di luar rumah maka yang sebaiknya orang tua atau keluarga lakukan adalah melatih anak untuk berani dan mandiri.
Salah satu cara melatih keberanian dan kemandirian anak adalah sedari kecil biasakan anak untuk membantu pekerjaan rumah, bukan sebaliknya justru malah dilarang. Biasanya sebagian dari kita cenderung untuk melarang ketika si kecil dengan rasa ingin tahu, penasaran, dan ingin mencoba yang tinggi mulai pegang sapu, mendekati wastafel, menata-nata meja makan dan lain sebagainya, karena khawatir justru akan membuat pekerjaan jadi lebih berantakan. Namun akibatnya karena dari kecil sudah sering tidak dibolehkan membantu pekerjaan, maka ketika besar orang tua meminta anak untuk membatu pekerjaan rumah, anakakan cenderung menolak, jadi kuncinya ada di pola pembiasaan.  Nah penolakan anak adalah salah satu implikasinya, akibat lain adalah ketika di rumah rasa ingin tahu, rasa penasaran dan rasa ingin mencoba yang secara naluriah mulai muncul dianak usia tertentu tidak dapat dipenuhi di dalam rumah maka secara otomatis anak akan mencarinya di luar rumah, mencari tahu dari teman-temannya yang juga sama-sama tidak tahu.
Kemudian pola pembiasaan yang harus kita praktikan kepada anak-anak kita untuk mengembangkan ketrerampilan sosialnya adalah respon kita ketika anak kita mengacaukan sesuatu, memecahkan vas misalnya. Kira-kira respon apa yang akan dilakukan oleh orang tua? Apakah A. memarahi anak, B. “Ya sudah deh, lain kali hati-hati ya”, C. Menanyakan Kenapa?, D. Menanyakan apa yang terjadi?. Mari kita bahas satu persatu, memarahi anak jelas tidak ada gunanya, tidak akan mengubah sedikitpun apa yang sudah terjadi, bahkan bisa melukai jiwa anak. Bersikap permisif, ya sudahlah, lain kali hati-hati ya, juga tidak akan membuat anak akan berhati-hati ke depannya. Lantas respon apa yang sebaiknya kita berikan? Yang harus kita lakukan adalah menanyakan kepada anak apa yang terjadi? Tadi ceritanya bagaimana? Jangan tanyakan “Kenapa?” karena kalau kita terbiasa menanyakan anak dengan “Kenapa?” maka akan membuat anak-anak kita mencari-cari alasan untuk pembelaan diri dan pembenaran dirinya, pertanyaan ini membentuk karakter anak yang berapologi.
Berbeda jika kita menanyakan pertanyaan “Apa yang terjadi?” maka anak akan belajar untuk mengambil hikmah, apa yang bisa dipelajari dari kejadian tersebut dan kedepannya apa yang sebaiknya dilakukan. Misalnya, memecahkan vasnya karena sedang memakai baju sambil berjalan. Nasihat “lain kali hati-hati ya” bisa diganti dengan “Berjanjilah pada dirimu sendiri bahwa kedepan tidak diulangi lagi memakai baju sambil berjalan”. Kesadaran dan komitmen anak lah yang sedang dibangun disini. Kesadaran dan komitmen anak bisa dilatih dengan cara sering menanyakan pendapat anak, missal dalam kasus tadi, menurutmu bagaimana memakai baju sambil berjalan? Terus sebaiknya menurutmu kedepan harus bagaimana supaya tidak terulang lagi? biarkan anak melogiskan sendiri nasihat yang akan kita sampaikan.
Jadi kembali lagi ke poin awal, selalulah menggunakan sudut pandang anak dalam menyelesaikan setiap permasalahan anak. Selanjutnya kita sebagai orang tua juga harus menyadari bahwa orang tua menjadi model bagaimana anak-anak kita bersosialisasi, contoh yang diberikan orang tualah yang membentuk keterampilan sosialisasi pada anak. Salah satu kiatnya adalah dengan sering-sering mengajak anak di acara-acara umum, seperti arisan, silaturakhim, family gathering kantor dan lain sebagainya. Jangan pernah khawatirkan anak akan membuat kacau atau melakukan sesuatu yang memalukan orangtua. Kita bisa jelaskan dan brifing terlebih dahulu anak-anak kita tentang acara yang akan dikunjungi, dibuat kesepakatan dengan anak, dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya melogiskan nasihat kita.
Sebenarnya cara kita memperlakukan anak sangat terkait dengan pola asuh, dimana pola asuh secara umum dibagi kedalam tiga, yakni 1) Permisif, yaitu pola asuh yang cenderung membiarkan, membolehkan semuanya, 2) Otoriter, yaitu pola asuh yang semua-semua serba dilarang, banyak aturan tanpa pelogisan, 3) Demokratis, yaitu pola asuh yang melibatkan anak, kita bicarakan terlebih dahulu dengan anak. Dan pola asuh kita sebaiknya menyesuaikan kebutuhan yang dibutuhkan anak pada saat tersebut apa.
Kiat berikutnya untuk melatih keterampilan anak adalah dengan permainan group. Setiap generasi mempunyai ciri khas permainannya sendiri,  generasi kita dulu punya permainan-permainan khusus yang mencirikan zamannya. Namun permainan group ini masih relevan dimainkan dari generasi ke generasi. Dalam permainan grup ini anak bermain peran ada yang berperan sebagai polisi dan ada yang berperan sebagai penjahat. Dalam permainan ini anak dibuat mengerti dan memahai bahwa polisi tidak boleh kalah dari penjahat, di kehidupan nyata kebaikan harus selalu mengalahkan kejahatan, kemudian penjahat harus menerima hukuman kejahatannya, dikehidupan nyata jika ada yang berbuat salah maka aka nada konsekuensinya.
Yang tak kalah pentingnya adalah perhatian orang tua untuk memastikan setiap anak mempunyai kemampuan untuk diterima dengan baik oleh teman-temannya, karena kalau kemampuan ini tidak dimiliki oleh anak maka ia tidak mempunyai teman. Dan supaya dia mempunyai teman maka anak akan “membeli” teman, kalau anak tersebut memiliki materi maka ia akan “membeli” temannya dengan materi, namun jika tidak memiliki materi maka si anak ini akan bersedia melakukan apa saja untuk biasa masuk ke pertemanan agar ia mendapatkan teman. Inilah cikal bakal anak-anak kita bergabung dalam “genk”, dia akan melakukan apa saja yang disyaratkan untuk masuk ke dalam genk tersebut.
Sebagai orang tua siswa baru yang baru masuk SD kita juga harus “tega” dengan anak, untuk hal-hal yang prinsip, seperti ketika anak mogok tidak mau sekolah karena alasan tertentu, maka sikap kita tetap “memaksa” anak kita untuk berangkat sekolah, dan percaya sepenuhnya kepada sekolah ketika mengantar dan meninggalkan anak, sekolah punya cara untuk membentuk sosialisasi siswa. Tentu dengan tetap adanya dukungan dan pendampingan dari oarng tua di luar sekolah, ketika anak kita ada masalah maka kita ajari dia untuk menyelesaikan masalahnya, bukan lari darinya. Misal, anak ada masalah dengan teman, di pukul teman atau di mintai uangnya oleh teman. Maka ajari cara untuk menyelesaikan masalahnya.
Sedikit berkilas balik kebelakang dizaman kita sekolah dulu, kalau ada anak yang mengadu ke orang tua atau guru maka kita akan diolok-olok teman-teman sebagai tukang ngadu akibatnya kita dijauhi teman-teman karenan dianggap pengadu. Namun seiring perubahan zaman budaya itu sudah tidak ada lagi. menceritakan pada guru atau orang tua apabila ada masalah dengan teman bukan hal yang menakutkan lagi untuk anak sekarang, maka buatkah anak-anak kita nyaman untuk menceritakan setiap masalahnya. Untuk contoh kasus permasalahan diatas, anak kita bisa kita ajari cara menjawab temannya yang suka meminta-minta uang anak kita, misalnya begini “kamu tidak aku kasih uangnya tapi yuk kita belajar bersama, kamu aku ajari matematika” misalnya.
Dan untuk anak-anak yang sulit menceritakan masalahnya dengan kata-kata, media tulis bisa dijadikan sarananya. Minta anak untuk menuliskan apa yang ia rasakan. Jadikan kita tempat yang nyaman untuk anak menumpahkan dan menceritakan semua unek-uneknya. Tetap tegas dan konsisten dengan hal-hal prinsipil, karena sekali saja kita bersikap permisif maka kita akan kehilangan kontrol atas anak kita.
Ingat! Memarahi anak tidak akan membuat anak menurut, semakit sering dimarahi justru akan membuat anak semakin kebal dan membangkang. Bahkan kondisi ekstrim bisa menumbuhkan dendam, kondisi psikologis yang ekstrim pernah terjadi seorang anak yang membantai ibu, bapak dan kakaknya, karena seharian dimarah-marahi. Untuk menghindari hal ini terjadi kalau sudah terlanjur terjadi kita menyelesaikan permasalahan dengan marah maka tidak ada salahnya kita minta maaf. Dan lihat betapa ampuhnya kata maaf ini.

Kesimpulannya secara keseluruhan, selalu dampingi anak di setiap masalahnya, pahamkan dan ajari anak berhadapan dengan berbagai jenis orang yang berbeda-beda, tanamkan keterampilan dasar dan kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi. (Imalia Din Indriasih)

Translate