Selasa, 04 Januari 2011

Boneka yang lucu

Karya: Amanda Khoirunnisa P
Siswi kelas 2 Al Hazen SD Al Irsyad 01 Purwokerto 2010/2011

Boneka kau lucu sekali
indahnya bulu yang berada di tubuhmu
kau lembut sekali
ingin aku memelukmu
dengan seerat-erat mungkin
ada banyak warnamu
ada banyak bentukmu
ada yang besar
ada yang kecil
itulah boneka-boneka lucu

Celoteh Anak


Anak Dan Dunianya
Anak-anak itu sangat polos, bahasa bertutur mereka lugu dan menyuratkan kejujuran. Jiwa mereka yang masing murni dan cenderung belum terkontaminasi oleh hal-hal yang negatif membuat cara berpikir mereka simple tetapi justru disitulah daya tariknya. Berlatar belakang inilah maka penulis mencoba mengungkapkan beberapa contoh gaya bertutur anak-anak dalam menceritakan suatu hal. Berikut adalah gaya bercerita murid-murid Al Hazen SD Al Irsyad 01 dalam menceritakan pengalaman berliburnya.
Adissa Saifina Aghistni, 8 tahun.” Ke Jogja, waktu hari jumat aku pergi ke Jogja, aku nginap di hotel, aku pergi ke mol. Disana aku beli baju dan buku”.
Aura Altsareza Destansya, 8 tahun. “Ke Embah di kota Tegal. Pas itu semua ke Tegal, subuh jam 04.00 (tertulisnya jam 40.00, he..he..) nah terus Aura berangkat. Terus di perjalanan macet, terus ayah nyelip mobil orang terus Aura sudah sampai terus Aura sholat Ied di masjid terus pulang sebentar terus Aura ke kuburan terus sudah selesai pulang ke Rumah”.
Faza Nur Wijaya, 8 tahun. “Aku pas liburan di rumah saja, terus aku ke tempat embah disana aku dikasih duit, dan duitnya buat beli sepeda. Pas beli mahal semua akhirnya aku ke Bank. Aku beli sepedanya bersama ibu, bapak dan setelah beli aku langsung mainkan terus pas aku mainkan tiba-tiba gabrugh aduh...”
Inaz Avriliana, 8 tahun. “Pergi ke rumah kakek dan nenek. Suatu hari saya pergi kerumah kakek dan nenek, di rumah kakek banyak sekali kaset hantu. Kaset hantunya macam-macam. Tapi ada sayangnya, soalnya bikin semua orang takut, aku aja yang ga takut. Sampai akhir di rumah kakek aku pulang ke Purwokerto. Aku senang sekali bisa berlibur”.
M. Firza Khadafi, 8 tahun. “Liburan ke Baturraden. Saya pergi ke Batturaden bersama keluarga. Terus saya nginep satu hari di Hotel. Terus hari besoknya saya sama keluarga berwisata. Terus saya naik mobil genjot bersama keluarga. Terus sepeda air bersama keluarga. Dan berenang dan naik sepeda air lagi. Dan terus saya ke pancuran 7 bersama kakak. Dan saya berenang di kolam renang.”
Jadi inget acara kuis yang dipandu oleh Hughest dulu, celoteh anak, sekarang pun ada kuis serupa, apa-apa-apa, tapi lupa siapa presenternya. Ini belum semua di muat, berikutnya akan ditambahkan contoh lain beserta komentarnya. Untuk sementara ini dulu, mau melanjutkan pekerjaan yang lain.
To be Continued....

Gempa


Karya: Ghishella Sharla Martiza Revikansyah
Siswi kelas 2 Al Hazen SD Al Irsyad 01 Purwokerto

Bumi pun berguncang
Seakan memberi isyarat padaku
memberi penjelasan
pada semua orang beriman

Semua rata dengan tanah
tak ada satupun bangunan yang masih kokoh
ada anak kecil mencari Ayah Ibunya
ada orang yang mencari sanak saudaranya

Mayat tergeletak dimana-mana
memberi duka pada semua orang
tanah yang kupijak ini telah berubah

Terdengar jerit tangis warga
mungkin ada luka dihatinya
rumah yang kutempati
kini hanya tinggal kenangan

Senin, 03 Januari 2011

Berdiri Diantara 2 Hati

Obrolan santai dalam perjalanan Tegal-Purwokerto
Suami : "Mi, aku sedang berdiri diantara dua hati"
Istri : "Kenapa Bi, ada wanita lain ya?"
Suami : (menunjuk papan rambu lalu lintas diatasnya) Hati-Hati!
Istri : !!!!!%#@##%%&&*&*%%##@#%!!!!:):D:O....

Learning Society

Kamis, 30 Desember 2010
Pagi ini mengikuti rapat kerja sekolah untuk mengawali semester 2 di tahun ajaran 2010/2011. Kepala sekolah mengawali dengan sebuah motivasi tentang pipa versus ember. Dimana pipa jauh lebih efektif dalam mengalirkan air bahkan ketika kita tidak melakukan apa-apa, meskipun memang memerlukan usaha dan waktu. Sedangkan ember memang relatif instant tetapi hasilnya kurang maksimal, dan memerlukan tenaga kita untuk mengalirkan air tersebut, yang artinya ketika kita berhenti maka terhenti pulalah aliran air tersebut.
Maknanya yang seharusnya kita lakukan dalam hidup ini adalah membangun pipa untuk tetap mengalirkan air. Air disini kita ibaratkan sebagai amalan baik yang akan mengantarkan kita ke surganya. Dan aliran pahala itu akan terus mengalir meskipun kita tidak melakukan apa-apa. Dan sisinilah posisi kita yang mendapatkan rahmat luar biasa dari Alloh SWT. Ya benar kita ditakdirkan menjadi seorang guru, sebagai seorang pendidik. Dimana ladang pahala yang ada didepan mata kita itulah nantinya yang akan menjadi pipa-pipa kita dalam terus mengalirkan pahala amalan kebaikan kita. Tetapi hal ini tentunya mensyaratkan sebuah kondisi. Kondisi dimana kita memang mencurahkan hati, pikiran dan perbuatan kita untuk mendidik anak-anak didik kita dengan penuh keihklasan hanya mengharapkan ridho Alloh semata.
Jadi teringat mengenai learning society atau masyarakat pembelajar. Meskipun ini adalah rapat rutin tiap mengawali pembelajaran, akan tetapi tidak lepas dari prinsip perbaikan akan kebaikan. Sebuah budaya yang positif dimana peningkatan kualitas diri bisa jadi dibentuk dan berproses dalam sebuah komunitas. Sekelompok orang dengan interest yang sama bisa saling memotivasi untuk menjadi lebih baik.
Bisa jadi keinginan itu ada dalam diri tiap orang untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Hal tersebut adalah alamah, siapa yang tidak ingin, bukan begitu? Tetapi titik tekannya disini adalah apakah setiap pribadi itu mampu untuk merealisasikan potensi keinginan itu menjadi kapasitas diri yang riil. Nah disinilah fungsi dari masyarakat pembelajar itu berperan. Dan memang tidak bisa dinafikkan bahwa ini erat terkait dengan budaya yang berkembang dimasyarakatnya. Apabila memang budaya yang ada dimasyarakat tersebut memang sangat menyukai posisi nyaman dan tidak terlalu suka dengan perubahan maka kondisi ini menyulitkan untuk efektifitas learning society.
Berbeda dengan masyarakat yang memang budaya perubahan sudah menjadi keniscayaan. Maka perubahan dan inovasi senantiasa akan berjalan seiring dengan berjalannya waktu. Intinya butuh dari sekedar motivasi internal untuk memunculkan semangat perbaikan diri, berarti disini diperlukan adanya motivasi eksternal. Nah disinilah fungsi dari masyarakat pembelajar ini bisa dioptimalisasikan. Pada lingkungan pendidik dalam sebuah lembaga pendidikan, kita bisa mengaplikasikan konsep learning society ini untuk senantiasa meningkatkan kualitas diri menjadi pendidik yang lebih baik yang senantiasa belajar untuk terus dan terus berubah menjadi lebih baik lagi. Sebagaiman rutinitas rapat pun bisa dijadikan ajang untuk memotivasi diri dan lingkungan untuk mengupayakan kondisi yang lebih baik.
Penulis duduk disini sebagai bagian dari komunitas masyarakat pembelajar ini pun sangat merasakan manfaatnya dari semangat kebaikan, serta saling memotivasi untuk kebaikan.

Translate