Jumat, 19 Februari 2021

SADAR BUKAN TAKUT

 


        Kalau boleh sedikit mengutip pendapat Bunda Wening pada saat menjadi pembicara di seminar parenting beberapa waktu yang lalu. Bahwa yang timbul dihati seorang oknum yang disersi adalah perasaan dendam dan ingin membalaskan karena hukuman yang diberlakukan adalah dipermalukan di depan umum. Maka efek yang timbul bukanlah menjadi lebih baik akan tetapi seringkali malah justru menjadi penjahat.

Artinya bahwa hukuman yang efektif adalah menumbuhkan kesadaran bahwa yang perbuatan yang dilakukan adalah salah oleh karena itu konsekuensi yang dijalankan adalah untuk memperbaiki kesalahan. Bukan untuk menghukum apa tah lagi untuk mempermalukan. Tidak ada alasan lain dari diberlakukannya konsekuensi logis melainkan untuk kebaikan dan perbaikan diri sendiri. Pertanyaannya adalah bagaimana cara yang efektif untuk memunculkan kesadaran ini. Dan pertanyaan selanjutnya adalah setelah kesadaran itu muncul bagaimana cara supaya yang menjalankan konsekuensi menjalankannya dengan senang hati dan secara otomatis seketika itu juga tatkala menyadari bahwa perbuatan yang dilakukan itu salah dan harus segera diperbaiki dengan menjalankan konsekuensinya.

        Konsep inilah yang ingin diterapkan dalam proses belajar mengajar di kelas dalam lingkup kecil dan di sekolah dalam cakupan yang lebih luas. Dimulai dengan sebuah langkah kecil yakni pengajar secara massif menanamkan konsep ini di benak peserta didik. Disetiap kesempatan yang memungkinkan misalnya pada saat ada peserta didik yang melanggar peraturan yang sudah disepakati maka sebelum memberikan konsekuensinya berikan dulu pengertian dan latar belakang kenapa ananda harus menebus kesalahannya. Dengan dijelaskan didepan siswa yang lainnya sesering mungkin setiap ada kesempatan maka harapannya tetes-tetes air kecil ini kelas akan terukir jelas dikalbu para peserta didik.

        Cara menjelaskan itu penting, sebaik apapun sebuah konsep jika cara menyampaikannya kurang tepat maka efeknya tidak akan pernah maksimal bahkan tidak menutup kemungkinan akan kontra produktif. Mengenai betapa pentingnya cara sepenting isi yang ingin disampaikan akan dibahas secara khusus pada bab IV “Kemasan Itu Penting” berikutnya.

        Salah satu cara yang bisa dipakai adalah dengan bercerita atau mendongeng sambil mensimulasikan konsep dengan melibatkan peserta secara langsung. Minta dua peserta didik untuk maju kedepan, cara menunjuk peserta didik untuk maju kedepan selalu dengan cara yang kreatif dan menyenangkan, misalnya dengan menanyakan siapa yang ukuran sepatunya 40, siapa yang pekerjaan ayahnya dokter dan lain sebagainya.

        Berikan satu buah board marker pada salah satu peserta didik dan penghapus pada peserta didik lainya. Minta peserta didik untuk membuat coretan-coretan tidak bermakna sejelek dan sesemrawut mungkin yang bisa dibuat oleh peserta didik pertama.  Biasanya respon peserta didik lainnya yang ada dikelas akan tertawa, biarkan sejenak mereka menikmati “akward moment” tersebut. Segera setelah peserta didik bisa tenang bisa dimintai pendapatnya mengenai coretan-coretan tersebut.

        Apakah itu baik ataukah itu Buruk? Apakah itu bermanfaat ataukah itu mengganggu? Apakah itu sudah pada tempatnya? Biarkan peserta didik memberikan pendapat-pendapatnya, sambil menyisipkan adab dalam berpendapat. Yakni harus tertib, dengan tunjuk jari terlebih dahulu dan mulai berbicara pada saat dipersilahkan, mendengarkan pada saat ada ada yang menyampaikan pendapatnya dan lain sebagainya.

        Setelah itu susulkan pertanyaan, apa yang kalian lakukan kalau kalian menemukan hal yang demikian? In syaa Allah semua jawaban akan mengerucut pada “menghapusnya”, minta peserta didik kedua untuk menghapus semua coretan-coretan yang ada di papan tulis menggunakan penghapus sampai semua coretan bersih terhapus.

        Setelah peragaan tersebut mulailah pengajar untuk bercerita mengenai hikmah simulasi tersebut. Peserta didik diajak untuk memahami bahwa pada hakikatnya kesalahan/keburukkan yang dilakukan harus dihapus dengan kebaikan yang mengiringinya. Sebagaimana hadist nabi SAW dalam syarah hadist ke-18 Arbain An Nawawiyah:

عَنْ أَبِي ذَرّ جُنْدُبْ بْنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذ بْن جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.[رواه الترمذي وقال حديث حسن وفي بعض النسخ حسن صحيح]

Dari Abu Dzar, Jundub bin Junadah dan Abu ‘Abdurrahman, Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda: “Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan susullah sesuatu perbuatan dosa dengan kebaikan, pasti akan menghapuskannya dan bergaulah sesama manusia dengan akhlaq yang baik”. 
[HR. Tirmidzi, ia telah berkata: Hadits ini hasan, pada lafazh lain derajatnya hasan shahih]

        Berikan kisah-kisah contoh konkrit lainnya untuk lebih jauh menanamkan pemahaman ini jauh ke benak peserta didik, bisa di cuplik dari kisah sahabat atau kisah teladan lainnya

Kamis, 26 Maret 2020

BENDA-BENDA DI KELAS



Soal Evaluasi

Kerjakan dengan jawaban yang tepat!
BAHASA INDONESIA
1.  Cuaca adalah . . . .
2.  Keadaan cuaca di setiap tempat . . . .
3.  Keadaan cuaca dapat   . . .     di setiap waktu.
4.  Salah satu faktor yang mempengaruhi cuaca adalah   . . .   udara.
5.  Saat cuaca cerah, udara terasa . . . .

PPKn
No 1-3 perhatikan teks di bawah!
Rania dan Yuda hidup bertetangga di perumahan Asri. Orangtua Rania berasal dari Kalimantan Tengah. Orangtua Yuda berasal dari Jawa tengah.  Mereka hidup dengan damai.
1.   Rania dan Yuda memiliki asal yang . . . .
2.  Rania sebaiknya selalu   . . .     keluarga Yuda.
3.  Rania dan Yuda harus hidup    . . .   agar hidup dengan nyaman,
4.  Perilaku yang menunjukkan persatuan dalam keberagaman adalah . . . .

PJOK
1.  Gerakan keseimbangan dapat dilakukan dengan menirukan gerakan hewan . . . .
2.  Kaki yang dipakai untuk bertumpu adalah kaki yang . . . .
3.  Saat menirukan gerakan tersebut tangan harus . . . .
4.  Cara menirukan gerakan keseimbangan burung banagu adalah . . . .

Kerjakan soal di bawah ini dengan benar!
1.   Bacalah teks di bawah ini :
Aku dan keluarga pergi ke rumah nenek. Di tengah perjalanan, awan mendung menutupi langit.  Beberapa saat kemudian turunlah hujan.  Jalan dan pepohonan basah. Udara pun terasa dingin.
Cerita di atas terjadi saat cuaca . . . .
2.  Raka memiliki 1  kotak roti bolu.  Roti tersebut dipotong menjadi 8 potong. Dua untuk ayahnya, tiga untuk ibunya,. Adiknya diberi 1.  Potongan yang diterima Raka adalah . . . . (tuliskan bentuk pecahannya)
  Pada lagu Awan Putih baris pertama dan kedua memiiliki pola irama yang . . . .

Rabu, 12 Februari 2020

Huznudzon ya… Selalu Memancarkan Positif




          Kita adalah apa yang kita pikirkan. Ya, pikiran kita turut membentuk siapa diri kita. Karenanya pastikan bahwa yang kita pikirkan adalah hal yang baik-baik, dari pikiran yang baik ini akan keluar perkataan yang baik dan perbuatan yang baik. Sebagaimana ceret pasti mengeluarkan apa yang ada di dalamnya, ceret berisi madu apabila dituang akan keluar madu begitupun ceret berisi air kotoran maka yang air kotoran pulalah yang keluar ketika dituang. Itu sudah bisa dilogika, tidak akan mungkin pernah menjadi sebaliknya.
          Sebagaimana firman Allah SWT, dalam QS Al Hujurrat: 12, tentang perintah untuk senantiasa berprasangka baik, “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.” (QS Al-Hujurat ayat 12).
          Prasangka itu lahir di pikiran kita, dan betapa pentingnya untuk selalu mempunyai pikiran yang baik agar terhindar dari dosa prasangka. Memang kita tidak dihukumi selama itu masih dalam pikiran kita, akan tetapi seperti yang sudah dijelaskan diawal bahwa apa yang ada dipikiran kita akan menjelma menjadi perkataan dan perbuatan. Oleh karena itu menjaga pikiran kita untuk selalu berprasangka baik terhadap apapun yang kita alami sangat penting, agar kebaikan pulalah yang akan kabul menjadi nyata.
          Berikut adalah lima tips agar kita selalu bisa mengkondisikan pikiran kita untuk selalu berbaik sangka, baik terhadap orang lain, terhadap peristiwa yang kita alami, terhadap sesuatu yang kita dengar dan kita lihat atau terhadap apapun di dunia ini.
Pertama, adalah percaya. Memberikan kepercayaan kepada orang lain adalah salah satu cara kita memupuk prasangka baik terhadapnya. Pun demikian dengan peristiwa yang kita alami, baik atau buruknya kita harus senantiasa memberikan kepercayaan bahwa semuanya adalah yang terbaik dari Allah, sebab bisa jadi kita menyukai sesuatu padahal itu buruk bagi kita. Bisa jadi kita membenci sesuatu padahal sesuatu tersebut baik bagi kita. Jadi yang seharusnya kita biasakan adalah pasrah dan percaya sepenuhnya pada ketentuan Allah atas kita.
Kedua, adalah berhenti dari berpikir tidak baik. Hal-hal yang buruk tidak akan pernah muncul dalam mimpi sekalipun jika kita berhenti berpikir buruk. Inti dari tips yang kedua ini adalah berhenti dari berpikir yang tidak-tidak, berangan-angan atau berandai-andai bahkan sampai berhalusinasi atau paranoid. Sederhananya untuk lebih memudahkan dalam memahami tips kedua ini, dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut, apakah dengan memikirkan hal-hal yang buruk, hal-hal tersebut akan bisa kita atasi dan lewati dengan baik? Apakah dengan berangan-angan yang buruk hal baik akan datang kepada kita. Jadi sudahlah, berpikir baik saja, dan panjatkan itu sebagi doa, kita tidak akan pernah tahu doa kita yang mana akan dikabul oleh Nya.
Ketiga, Berdoa. Masih berhubungan tips sebelumnya, kekuatan doa itu sungguh luar biasa, sebab yang bekerja di dalamnya adalah kuasa Allah, dimana tidak ada satu kekuatanpun di dunia yang bisa melampaui kuasanya. Mintalah kepada Allah agar selalu diberikan pikiran dan prasangka yang baik terhadap segala sesuatu. Tidak ada cara yang lebih baik dan lebih elegan selain meminta kepada yang Maha Memberi. Bisa jadi pinta kita tidak serta merta kabul seketika, namun doa yang sudah dilangitkan akan menempati tempatnya dan akan menemui takdirnya apakah dikabul atau digantikan denga takdir yang lebih baik sesuai kehendak Allah atas hambaNya.
Keempat, memilih teman yang baik dan kondusif. Terkadang pikiran kita banyak dipengaruhi oleh lingkungan tempat kita bergaul. Teman-teman disekeliling kita turut memberikan kontribusi yang signifikan pada cara berpikir kita. Perkataan dan pemikiran mereka sedikit banyak turut mempengaruhi cara berpikir, berbicara dan bertindak kita bahkan tanpa kita sadari. Tips ini bukan bermaksud untuk memilih-milih teman, namun lebih kearah kehati-hatian agar kita tidak terjerumus kedalam pergaulan yang tidak baik. Jika kita bergaul dengan teman-teman yang selalu berpikir, berkata dan bertindak positif maka kita pun akan terkondisikan demikian. Sebagaimana dijelaskan dalam HR Bukhori dan Muslim yang menjelaskan Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat  seorang penjual minyak wangi dan seorang padai besi. Penjual minyak wangi mungkinn akan memberimu minyak wangi darinya, dan kalau pun tidak engkau akan tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya.
Kelima, dan yang terakhir adalah kita tidak boleh membohongi dan menipu orang lain. Dengan mengkondisikan diri kita berlaku demikian akan membuat kita menjadi orang yang selalu berpikir baik, karena kita tidak pernah mencoba menjahati orang lain.
          Demikian kelima tips agar kita senantiasa berhuznudzon dan tidak pernah bersuudzon. Selalu pikirkan segala sesuatu itu baik karena kita bisa melihat kebaikan dari segala sesuatu. Yuk selalu berpikir positif. (Imalia Din Indriasih)

Artikel ditulis 24 September 2018
Gambar diambil 25 November 2019
Hubungan isi artikel dengan gambar? Senyumin ajah...

Kamis, 31 Oktober 2019

Banner dan Flyer

Bukan semata karena kita, tapi banyak peran orang-orang di sekeliling kita... nitip dokumentasinya disini yang sepi dari komentar, pertanyaan dan lain-lain..

Inobel 2019 di Hati
Semoga semakin arif dan bijaksana menyikapi kondisi



Kamis, 17 Oktober 2019

Bergerak itu niscaya dan berhenti itu mati














Bukan semata karena kita dimana kita berdiri  tapi banyak peran mereka kita saat ini... terus melangkah, seraya mengajak... Purwokerto, 17 Oktober 2019 

Rabu, 19 Desember 2018

Stop Following Me




Eng ing eng… I’m on the mission.  Yup, hari ini aku sedang dalam misi menyelidiki sesuatu dan aku harus tahu jawabannya hari ini juga.
          Tetapi sebelumnya kenalkan dulu namaku Adri Krisna, perjaka tong-tong dari kota Pati. Bagi yang tidak tahu Pati, kota ini terletak di pesisir pantai utara Jawa Tengah bagian timur, bersebelahan dengan kota ukir Jepara. Tepatnya aku berasal dari kecamatan Juwana. Kota Juwana ini merupakan kecamatan yang menghubungkan Pati dengan kabupaten sebelah, kota penghasil garam Rembang. Kecamatanku merupakan kota terbesar kedua di kabupaten Pati setelah kota Pati, kampung halamanku itu terkenal dengan kerajinan kuningan dan olahan Bandeng.
          Dan sekarang, diusiaku yang ke duapuluhdua tahun, aku sedang merantau di Semarang kota Atlas. Mendengar caraku bercerita seolah sedang mengajar geografi ya? Tepat! Aku memang mahasiswa semester akhir, insyaalloh, di jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial disalah satu Universitas Negeri di Semarang. Dikelasku ada dua orang yang bernama Adri, yakni diriku dan dan satunya lagi Adrian Maulana, tapi bukan Adrian Maulana yang artis itu, kebetulan saja namanya sama. Maka untuk mengidentikkan bahwa yang dimaksud adalah Adri yang ini, aku memakai nama kotaku dibelakang namaku. Aku pun dikenal dengan sebutan Adri Juwana, terutama di nama-nama akun social media.
          Cukup perkenalan singkat tentangku. Nah, sekarang akan kuceritakan misiku hari ini, I’m following, stalking, tapping, recording, analizing, nasi aking, loh, hehe on the conclution lagi jadi Shinichi Kudo nih. Dan targetku adalah “DIA”, siapakan dia? itulah yang coba kucari tahu identitasnya. Cewek itu sangat misterius, harusnya misis-ius ya? bukan mister-ius, kan cewek bukan cowok.
          Harus kuceritakan juga kenapa aku harus menyelidiki cewek satu ini. Diantara kalian ada yang percaya love in the first sight gak? Bukan, ini bukan tentang cinta pada pandangan pertama. Tapi ini tentang hati, hatiku yang langsung terbawa pergi olehnya dikali pertama aku berjumpa dengannya, di perpustakaan kampus pagi ini. Karena itu sekuat tenaga aku harus berusaha memastikan apakah hatiku berada di tempat yang tepat. Dan kalau ternyata tidak, aku harus bisa merebutnya kembali dan menempatkannya kembali di tempat yang benar. Saaaahh… bahasanya mulai puitis nih.
Kumulai dengan mengikuti jejaknya, berasa seperti anjing pelacak nih.  Tapi aku melacak pakai mata bukan mengandalkan penciuman. Pertama kuikuti dia ketika pertama kali keluar dari kampusnya, langsung kukenali cewek itu dari jauh dengan jilbab biru mudanya. Dia sedang menuju parkiran, deretan di area parkir motor dilewati begitu saja, menuju area parkir disebelahnya, dipencetnya sebuah tombol kecil dari benda yang dipegang di genggaman tangannya. Tak jauh darinya Chevrolet aveo hahctback warna biru metalik menerima respon, sejurus kemudian cewek itu masuk dan melajukan si biru keluar gerbang fakultas sastra.
Kusetarter jagoan merahku, mengikuti si biru yang melaju kearah jalanan kota. Tidak sebut merek ah, entar dikira produk sponsor, mana gak dibayar lagi, lah tadi sebelumnya apaan? Bukannya sebut merk juga? Gimana sih tidak konsisten!, ya sudahlah!. Singkat cerita, ternyata sibiru metalik berhenti dipelataran parkir sebuah coffee shop “Blue Café”, cewek berjilbab biru itu turun dari si biru metalik menuju café biru dan memilih duduk di deretan kursi biru disalah satu sisi café yang berdekatan dengan kaca yang juga bernuansa biru. Nah loh kenapa jadi serba biru begini, mana sayup-sayup dari dalam café  terdengar alunan lagu “Malam Biru”nya Sandhi Sondoro, komplit sudah serba birunya, ditambah hatiku yang juga membiru.
Kuparkirkan juga si bebek merahku diparkiran café yang sama, akupun masuk dan mengambil tempat duduk jauh di sudut café  ditempat yang tidak terlalu mencolok perhatian dari posisi duduk si jilbab biru. Kuambil majalah dari etalase tak jauh dari tempatku duduk. Seorang waiter datang menghampiri dan menyodorkan booklet menu kehadapanku. Karena ini coffee shop, maka banyak sekali ragam kopi yang ditawarkan dalam daftar menu dihadapanku. Aku bukan penggemar kopi jadi aku pilih saja yang ringan, cappuccino latte  dengan topping karamel dan onions rings jadi pilihanku. Setelah waiter meninggalkan mejaku kembali mataku mengamati meja di pinggir kaca café, si jilbab biru sedang menikmati cangkir kopinya ditemani french fries di piring cemilannya. Sambil menyentuh-nyentuh screen enam inch phablet warna pink di tangannya, kok bukan biru? Tidak harus biru juga kan? Tidak harus dibahas juga kan?.
Dari tempatku duduk aku tak bisa melihat apa yang sedang cewek itu lakukan dismartphone-phabletnya, kayaknya harus menggunakan teleskop nih. Karena tak bisa melihat jelas, sejenak kemudian kuputarkan pandangan mataku ke seputar ruangan café, di tengah ruangan ada meja racik kopi dan di sana dua orang barista sedang melakukan keahliannya meracik minuman kopi. Tak lama kemudian waiter kembali mendatangi mejaku untuk mengantarkan pesananku. Cangkir warna biru berisi cappuccino latte yang diletakkan diatas mejaku itu diatas buihnya ada pasta karamel membentuk hati, mengingatkanku kembali akan misi yang sedang kulakukan. Maka sontak mataku kembali melihat ke arah cewek itu.
Sepertinya dia sedang ingin berlama-lama di café ini, atau…? Tiba-tiba terlintas di pikiranku kalau dia sedang menunggu seseorang? Ya, betul sepertinya cewek itu sedang janjian ketemu dengan orang lain di café ini. Tapi siapa ya? Akupun mereka-reka semua kemungkinan di otakku, cowoknya? Ah gak mungkin masa cewek berjilbab rapi seperti itu punya cowok, temannya? Atau keluarganya? Ah, gak tahu ah…
Bel di pintu café  berdenting kala terbuka, dan seorang perempuan paruh baya memasuki ruangan. Haruskah kugambarkan bagaimana rupa perempuan itu? aku berpikir adakah relevansinya perempuan itu dengan misiku? Ya pokoknya walau tak muda lagi tetapi perempuan yang tengah duduk di hadapan jilbab biru itu masih meninggalkan gurat-gurat cantik masa mudanya. Aku tidak melihat kemiripan wajah dengan si jilbab biru, jadi kusimpulkan saja tidak ada hubungan darah antara keduanya.
Si jilbab biru memanggil waiter dan menawarkan pesanan kepada tamunya. Aku sempat berpikir sepertinya café ini bukan tempat pertemuan yang lazim untuk dua orang yang sedang kuamati itu. Ya, karena tempat ini identik dengan tempat kongkownya anak muda gaul, dan itu sama sekali tidak cocok dengan profil dua perempuan yang tengah keperhatikan itu. Kecuali mereka memang penggemar berat kopi atau mereka adalah pemilik atau manajemen dari café ini. Ah, haruskah aku menemukan jawaban dari pertanyaanku itu, kembali kutanyakan relevansinya dengan misiku. Apakah itu berkaitan dan berpengaruh langsung pada hatiku yang tengah kuperjuangkan? Only God knows, halah ujung-ujungnya gitu, bukannya harus begitu?.
Tapi memang seringkali seperti itu, kita terkadang susah menemukan jawaban dari pertanyaan yang bukan kita pembuat pertanyaannya. Jadi kalau ingin selalu menjawab benar untuk setiap pertanyaan, buatlah pertanyaanmu sendiri. Tetapi kalau menjawab pertanyaan yang dibuat oleh orang lain ada kemungkinan kita salah menjawabnya, meski ada juga kemungkinan kita benar menjawabnya. Kok jadi membicarakan tanya-jawab sih, seperti dah jadi guru saja yang salah satu tupoksinya membuat pertanyaan sekaligus membuat jawaban dari pertanyaan tersebut. Hehe, Insyaalloh kalau tahun ini lulus kuliah, siap deh jadi guru geografi.
Kembali ke misiku, setelah membicarakan sesuatu yang menurut dugaanku masalah yang penting, keduanya sepertinya sudah mencapai kesepakatan yang aku tidak tahu membicarakan apa dan menyepakati apa. Wah selain kurang teleskop kayaknya harus bawa penyadap suara juga nih. Lantas keduanya berdiri, saling bersalaman dan cipika-cipiki, lantas perempuan paruh baya itu pun pergi meninggalkan si jilbab biru sendiri. Namun tak lama kemudian si biru pun memanggil waiter untuk menanyakan bill dan segera bersiap untuk pergi.
Sebuah kode bagiku untuk juga ikut beranjak pergi, kulakukan hal yang sama dengan si jilbab biru, memanggil waiter dan membereskan bill. Aku tetap menjaga jarak tatkala aku kembali mengikuti si jilbab biru, kali ini dia tidak menuju ke si biru metalik di parkiran tetapi berjalan kaki menyusuri trotoar di sepanjang komplek pertokoan di blok ini. Berjalan santai sambil sight-seeing ke etalase-etalase toko sepanjang jalan ini. windows shopping? Itukah yang sedang dilakukannya? Aku terus menebak-nebak dalam pikiranku, sampai aku menyadari sesuatu. Dia memang sengaja berjalan kaki diantara kaca-kaca etalase toko itu, karena kaca-kaca itu bisa memantulkan sesuatu dibelakang si jilbab biru. Ya, dia tahu kalau dia sedang diikuti olehku, tapi aku tidak tahu sejak kapan dia tahu.
Kemudian di taman kecil di ujung blok si jilbab biru menghentikan langkahnya. Membalikkan badan dan memanggilku, setelah aku mendekat dia berkata dengan tegas. “Berhenti mengikutiku!”. Mungkin karena kurang berhati-hati, kunci mobil ditangannya terjatuh, dan tatkala dia membungkuk untuk mengambilnya. Sesuatu yang berbulu keluar dari tas biru yang di bawanya. Setelah mendapatkan kembali kunci mobilnya dia segera berajak pergi meninggalkanku yang terbengong-bengong sendiri. Sekian detik setelah kutersadar segera kupungut sesuatu yang berbulu yang jatuh dari tas cewek itu.
“Cup, cup, cup, Hati-ku sayang… kamu baik-baik saja kan?” kataku sambil memungut hamster putih binatang piaraanku yang pagi tadi di perpustakaan tanpa sengaja meloncat masuk ke tas cewek berjilbab biru yang segera pergi sebelum aku sempat mengambil binatang kesayanganku itu. “Hati-ku sayang, kamu tidak boleh nakal lagi, aku sangat megkhawatirkanmu, tidak boleh masuk sembarangan ke tempat orang lain ya?”. Sekarang kenalkan ini hamster kesayanganku, namanya Rohati, aku biasa memanggilnya Hati.

Sejenak aku terdiam sepertinya aku lupa sesuatu, apa ya? Ya, aku lupa menjelaskan yang sebenarnya kepada cewek berjilbab biru itu, ia pasti telah salah paham karena kuikuti seharian ini. Duh, Sinichi Kudo yang gagal misi. Kalian pasti aneh kenapa harus pakai stalking diam-diam gak  ngomong langsung saja dari awal? aku pun menanyakan pertanyaan yang sama, tapi aku tak pernah menemukan jawabannya. Tapi meski aku tidak tahu jawabannya, setidaknya aku tahu hikmahnya, kalau aku menanyakan langsung dari awal, tidak akan ada cerita pendek ala Sinichi Kudo yang gagal misi ini. Rencananya cerpenku ini akan ku kirimkan ke majalah favoritku. Kan, apa ku bilang selalu ada hal positif dibalik setiap kejadian.

Selasa, 18 Desember 2018

WHAT'S WRONG WITH THIS PICTURE?



Menjelang matahari kembali pulang ke peraduan, sinarnya  melembut dan temaram. Hangatnya yang tak lagi menyengat dan semburatnya menghias cakrawala barat dengan saga. Momentum yang tidak akan pernah diprotes oleh manusia manapun di dunia, yang biasanya selalu mengeluhkan panasnya mentari. Mungkin jaman sekarang, mengeluhkan panasnya cuaca di tengah hari sudah menjadi kebiasaan baru manusia, hatta itu hanya di status media sosialnya. Tak pernah ditemui ada yang mengumpat tentang senja. Yang ada menggores sajak dan kisah dari sang senja. Senja  akan selalu dirindukan seluruh umat manusia di dunia yang membutuhkan rebah untuk sebongkah raga dan istirah untuk sepenggal jiwa.
Disuatu masa di suatu waktu menjelang senja, dua pasang kaki menapaki jalan inspirasi untuk berburu senja. Kumandang Ashar yang baru saja menghilang menjadi pertanda perburuan segera dimulai. Dua pasang mata pemburu menyusur sudut, adakah obyek buruan yang indah dan pantas ditangkap dan diabadikan dalam gambar. Menelisik segala pandang, sepasang pemburu ini menggenggam mantap senjata di tangan. Memantapkan target tujuan, senjatapun didekatkan di pandangan dan “shot!” klik tombol kamera menangkap buruan.
Kaki-kaki para pemburu menapak pematang sawah yang padinya masih hijau menghampar, setelah jepretan kamera mencoba menangkap beberapa sudut gambar. Sepasang pemburu mengambil jeda.
“Kita istirahat dulu di pondok itu” kata si lelaki menunjuk sebuah pondok kecil di tengah sawah.
Sang wanita, menurut saja mengikuti langkah kaki di depannya. Duduk bersebelahan, membicarakan hasil jepretan kamera sore ini.
Seraya duduk dibukanya view gambar pada kamera DSLR yang dipegangnya sang wanita memulai bicara “Panning*)ku kurang sempurna” seraya menyodorkan kamera pada sang lelaki.
“Coba lihat” diterimanya kamera dari si wanita.
“Setelan diafragmanya dan kecepatannya sudah pas kok, mungkin pergerakan kamera dengan obyeknya yang tidak pas, nanti di coba lagi, pulangnya kita lewat jalan raya”.  
Framing**) kamu keren, pohon berbentuk Y itu sempurna membingkai obyek” sang wanita tersenyum, melihat hasil jepretan si lelaki.
“Ya, sangat sempurna, karena obyeknya adalah dirimu”  kedipnya menggoda si wanita. Disambut  rona sipu  si wanita. Kemudian, dilihat-lihat lagi gambar lainnya hasil buruan mereka, dan akhirnya terhenti pada sebuah gambar.
“Ada yang salah dengan potret ini?” gumam  si wanita melanjut bincang.
Dilongoknya gambar yang dimaksud oleh wanitanya. “Itulandscape***), aku mengambilnya saat kita lewat masjid kampus bada Ashar tadi, apanya yang salah?”
“Aku tidak tahu apa, tapi ada sesuatunya yang salah, coba deh kamu lihat lagi."
“Gambar masjid utuh sebagai latar belakang, komposisi langit sepertiganya, aktifitas orang yang lewat di depannya terlihat natural, apanya yang salah?” jelas si lelaki sambil mengejar tanya.
“Entahlah. Kau yang mengambil gambarnya, kau bantu aku tuk menjelaskan dimana letak salahnya. Sebenarnya pesan apa yang ingin kau sampaikan kepada penikmat gambar saat kau menyajikan gambar ini?”
Angin menghembus meniup rambut si lelaki yang mulai memanjang. Sedetik kemudian titik-titik halus turun bersusulan jatuh dari langit yang sebenarnya tidak bisa dikatakan gelap. Kemudian datanglah pelangi. Seandainya saja ada satu lagi kamera lain yang menangkap pemandangan sempurna ini dari arah tenggara yang menangkap gambar ini. Meskipun demikian setidaknya gambar itu sudah terekam baik oleh sepasang manusia itu, terekam dengan kamera hati tersimpan abadi dalam ingatan keduanya. Yang tengah dimabuk asmara, yang tengah memadu cinta. Lihatlah! sebuah sudut gambar yang sempurna, sepasang anak manusia yang tengah duduk berdua di pondok kecil ditengah hamparan padi yang warna hijaunya merata, dengan latar belakang Gunung Slamet yang kokoh dan jelas menjulang dibelakangnya, dilengkapi pelangi yang melengkung di atasnya. Gambar yang sempurna!
Mata lelaki itu menatap lembut wanitanya, yang tengah kebingungan. “Kucoba menguraikannya untukmu, tetapi sebelumnya beri aku petunjuk bagian mana yang tidak kau mengerti sehingga kau merasa ada yang salah dengan potret itu?”
Tak urung, sesudut senyum tersungging juga di bibir si wanita menerima tatap teduh dari pujaan hatinya “Mungkin bagian ini” jari telunjuknya menunjuk ke satu titik gambar.
Dengan sabar si lelaki menanti penjelasan.
Jari sang wanita menunjuk pada sebuah gambar, terlihat di halaman masjid ada sekeluarga yang baru turun dari sebuah mobil, dari jauh model dan logonya seperti family car  dari brand terkenal di Indonesia. Kemungkinan keluarga ini berasal dari luar kota dan yang kebetulan melewati kota ini saat Ashar tiba, mampir ke masjid untuk menunaikan sholat Ashar,  platnya B, jelas bukan dari kota ini.  Keluarga yang lengkap, sebuah keluarga muslim yang lengkap, ada Ayah, Ibu, dan kedua anaknya, seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki.
Sebuah gambaran keluarga yang siapapun yang melihatnya akan melihat sebagai potret sebuah keluarga yang ideal dan berbahagia. Si suami terlihat mapan, sukses dan menjabat, dengan penampilannya yang santun dan sholeh. Sang Istri yang berjilbab rapi, sangat cantik, anggun dan berkelas terlihat seperti berasal dari latar belakang keluarga yang terpandang dengan sangat keibuan menggandeng kedua anaknya yang masih kecil-kecil. Mendampingi suami tercinta, menjajari langkahnya. Melihat sang istri, sungguh sangat sempurna, mencoba membandingkan denganku, tentu saja bukan bandingannya, aku kalah telak, kalah cantik, kalah anggun, kalah berkelas, kalah pengaruh, kalah dewasa, kalah keibuan kalah segalanya. Sungguh bodoh lintasan pikiranku  yang mencoba membandingkanku dengan sang istri.
Lelaki bermata teduh masih sabar menunggu penjelasan wanita dihadapannya yang masih mengalur  pada  jalinan angannya sendiri, tak sepatahpun kata keluar dari mulut lelaki itu tuk mendesak jawab, meski rasa penasaran mengusai pikirnya. 
Sementara sang wanita masih mengembara di angannya menyaksi gambar di layar kamera yang dipegangnya. Ada yang salah! ya, aku tahu ada yang salah pikirnya, tapi apa?. Kembali matanya menyelusur semua potret yang dijepret kekasihnya, dan hatinya mulai menganalisa. Ya, itu dia!
Dari gambar-gambar tersebut sang suami terlihat tidak berbahagia, tak satu pun dari beberapa potret yang dijepret oleh  kekasihnya si lelaki bermata teduh, yang menunjukkan ekspresi muka sang suami pada potret terlihat berbahagia bersama dengan istrinya. Dari beberapa hasil jepretan yang tengah dilihatnya, mata sang suami selalu tertuju pada sebuah benda kecil yang tergenggam di tangannya, telepon genggam! Ya itu sebuah telepon genggam. Seakan jiwanya tidak berada di tempat yang sama dengan tubuhnya. Melainkan melayang jauh di suatu tempat yang tak diketahui rimbanya. Kini aku tahu apa yang salah!
“Salah teknik kayaknya sayang” tutur si wanita.
Kening si lelaki berkerut “Maksudmu?”.
“Kekuatan hasil jepretan fotografi yang menggunakan teknik landscape. Seharusnya bercerita tentang komposisi yang proporsional akan obyek yang ingin disajikan. Panorama masjid sore hari misalnya. Kalaupun ada makhluk hidup di dalamnya itu hanya melengkapi suasana panorama masjid yang ingin disuguhkan” berhenti sejenak, disusul sebuah senyum lembut, dipegangnya tangan lelaki kekasihnya.
“Kebetulan kau menangkap gagasan lain dari fotografi, kita mengenalnya sebagai gambar ekspresif,  fotografi yang menangkap perasaan manusia sebagai obyeknya. Bisa jadi sudut pengambilan gambarmu juga yang menyebabkan gambarmu tertangkap berbeda, seperti bukan landscape” berhenti sejenak, melihat ekspresi lelakinya yang sangat sabar dan kemudian melanjutkan kembali penjelasan.
“Fokus dari gambarmu adalah keluarga ini yang ada tepat ditengah pintu masjid, bukan masjidnya, bahkan komposisi langit dan obyek, sedikit kurang pas”
Di acaknya kepala sang wanita, lelaki bermata teduh itu sangat mengenal wanita pendamping hidupnya itu “Tapi bukan  teknikku yang salah kan yang mengganggu pikiranmu?”
Ada yang menggenang disudut mata sang wanita “Ya kau benar bukan itu yang mengganggu pikiranku….” Menghela nafas sejenak  “Karena aku mengenal keluarga ini tapi aku tidak mengerti kenapa harus ada yang terlihat tidak berbahagia padahal apa yang dimiliki mereka jauh diatas yang dimiliki rata-rata orang sedunia, jauh diatas yang dimiliki oleh kita. Ada yang salah dengan gambarnya, atau aku yang salah menerjemahkan gambarnya”
            Warna saga di cakrawala berubah menghitam, titik-titik air langit berubah menderas, sang matahari tepat berada di ufuk barat di titik peraduannya. Sayup di kejauhan terdengar kumandang Adzan Maghrib memanggil para sahaya untuk menghadap sang Tuan. Di tengah derasnya hujan dan mulai menggelapnya alam, sosok lelaki bermata teduh perlahan memudar dan lama-kelamaan menghilang lenyap tak berbekas bahkan satu noktah pun tak tersisa. Meninggalkan sang wanita dalam kebingungan, ternyata teman bicaranya sedari tadi hanyalah teman hayalannya saja,  sosoknya tidak nyata, namun hadir begitu nyata dihadapannya lengkap dengan kepribadian, peran, dan dunia yang mengkonstruknya.
Belum hilang kebingungannya, sang wanita semakin tak mengerti tatkala dilihatnya tangannya mulai transparan dan menjalar ke bagian tubuhnya yang lain. Semakin tipis dan makin menipis hingga hanya menjadi titik-titik. Dia mengalami hal yang sama dengan kekasihnya tadi, dirinya dalam proses menghilang.  Di ujung sadarnya sang wanita menyadari bahwa dirinya pun hanya sebuah hayalan, bagian dari imaginasi sebuah pikiran, dirinya lahir sebagai karakter dalam kisah yang dituliskan oleh penulis begitu nyata lengkap dengan sifat dan dunia yang ditinggalinya. Dirinya lahir dari kata-kata yang dirangkai menjadi kalimat, kemudian disusun menjadi sebuah cerita.
Dan di detik terakhir sebelum wanita itu menghilang, sesimpul senyum termanis tersungging sangat jelas seraya memandangmu yang mulai mengerti. Ya, kamu yang sedang membaca cerpen ini, kamu masih bisa melihat senyum sang wanita dengan jelas. Bahkan saat tatap matanya menatapmu dan kemudian lenyap menghilang. Selamat datang di dunia imaginasi kawan, dimana ketidakmungkinan adalah bukan apa-apa!.
            Sekarang jawablah apa yang salah dari potret ini?!




*)Panning : teknik fotografi untuk memotret obyek yang bergerak, mobil lewat misalnya, hasilnya obyeknya terlihat jelas tetapi backgroundnya blur, caranya dengan menyetel diafragma besar dan kecepatan rendah pada kamera manual kemudian pengambilan gambarnya dengan menggerakkan kamera mengikuti benda yang bergerak.
**)Framing : framing pada fotografi berbeda dengan framing pada teori media massa. Framing adalah teknik fotografi dengan membingkai obyek menggunakan obyek lainnya.
***)Landscape : Teknik fotografi yang memotret banyak obyek dengan komposisi tertentu, salah satu obyeknya menjadi obyek utama.




Sabtu, 15 Desember 2018

Strawberry on the shortcake



Cottage di puncak itu bernuansa modern namun banyak ruang terbuka hijau didalamnya. Sudut-sudutnya ditata sangat artistik, ditambah lagi konsep kebun binatang mini, dimana hewan jinak seperti rusa, kelinci dan angsa dibiarkan bebas melintas di taman-taman. Kolam ikan yang berada hampir disetiap barisan cottage menambah asri suasana dengan gemericik suara airnya.

Bagi seorang penulis situasi seperti di cottage itu sangat menginspirasi dan bagi seorang fotografer sungguh obyek buruan yang berharga untuk diabadikan dalam gambar. Oleh karenanya banyak yang sengaja mendatangi cottage ini hanya untuk sekedar mencari inspirasi. Dan di cottage inilah di sebuah pagi Nada seorang fotografer dan Tama seorang penulis  secara tidak sengaja bertemu disalah satu sudutnya.
Nada sedang menjepret kumpulan rusa yang tengah merumput di padang terbuka hijau tatkala, sebuah suara yang sangat dikenalnya dengan baik menyapanya.
“Pakai teknik apa nih memotretnya?” sapa Tama.
Nada menoleh sebentar dan menjawab asal “Teknik sipil, because I’m civilian”.
Mendengar jawaban asal dari Nada, “Kamu masih emosi ya Nad?, kan aku dah minta maaf” kata Tama.
“Kalau ‘emosi’ itu nama makanan yang lembut, manis, aneka rasa, dingin dan beku, ya, sekarang aku sedang ingin sekali emosi…” Nada menoleh ke suatu arah, “Bang, es krim bang!” didekatinya café cottage tak jauh dari tempatnya memotret, seraya meminta dua buah es krim cone rasa coklat dan satu lagi strawberry.
“Kamu mau ‘emosi’ juga Tam?” tanya Nada sembari menyodorkan es krim rasa coklat ke tangan Tama yang tengah duduk di kursi taman. Nada mengambil tempat disampingnya. Sementara es krim strawberry sudah berkurang dua gigitan karena dimakannya.
Mau tak mau Tama tersenyum, dengan cara Nada menjawab pertanyaannya. Alih-alih mengambil es krim yang di sodorkan kepadanya, Tama malah mengambil es krim di tangan Nada yang sudah hilang toping saus strawberry diatasnya karena sudah dijilat Nada.
“Aku lebih suka yang ini” cuek saja tama langsung memakan es krim strawberry yang sudah dimakan Nada bagian atasnya.
I knew, it’s mean indirect kiss to you right? Just like drink from the same glass, I’d remember that” respon Nada sedikit menggumam, namun dia biarkan saja apa yang dilakukan Tama.
          “Bahasa Indonesia dong, biar aku tidak salah  mengerti” Tama memandang Nada.
          “Jangan minta diterjemahkan, artinya aneh banget” sepertinya Nada asal menjawab lagi.
          “Aneh bagaimana?” Tama tambah penasaran.
          “Artinya, kamu ganteng banget, aneh kan? Pertama, aneh karena tidak ada hubungannya dengan pembicaraan kita, kedua, aneh karena tidak sesuai dengan kenyataannya?” Nada semakin asal menjawab.
          Tama sempat tertawa mendengar jawaban Nada “Sepertinya kamu memang masih marah padaku” Tama mencoba berkesimpulan.
          “Kalau ‘marah’ adalah nama hewan putih, berbulu, lucu, imut, suka meloncat, bermata bening dan bertelinga panjang, ya, aku ingin memotret ‘marah’ untuk kuabadikan dengan kameraku” jawab Nada sambil mengarahkan moncong kameranya kearah sekawan kelinci yang bermunculan dari semak daun diseberang kolam ikan.
          Tak urung Tama kembali tertawa atas jawaban Nada, ringan namun dalam. “Aku tak suka ‘marah’ yang itu, kamu pasti tak percaya dulu waktu aku kecil aku pernah digigit oleh ‘marah’ berbulu putih yang suka meloncat itu” Tama mengikuti gaya Nada.
          “Hahaha…” sekarang ganti Nada yang tertawa.
         Setelah menghabiskan es krim mereka berdua menyusuri, jalan setapak yang ada di cottage tersebut, sambil sesekali Nada menjepretkan kameranya ke beberapa arah.  Tama menjajari langkah Nada. Mereka berdua masih terlibat dalam pembicaraan, atau lebih tepatnya perdebatan.
          “Apa yang sedang kamu tulis?” tanya Nada.
          “Sekarang kamu perduli?” Tama berhenti sejenak, menoleh ke wanita disampingnya yang hanya tersenyum tipis merespon pertanyaannya.
  “Novel” lanjut Tama.
          “Tentang apa?” tanya Nada lagi.
          “Biasa, tidak pernah jauh-jauh dari romance” jawab Tama.
          “Huh, aku selalu merasa aneh. Kamu begitu pintar menuliskan cinta dalam novelmu seakan itu benar-benar nyata dan terjadi. Tapi aku selalu gagal paham menangkap cintamu di dunia nyata” kata Nada.
          “Jadi itukah yang kau rasakan tentangku?” tanya Tama.
          “Ya” jawab Nada singkat.
          “Maaf” kata Tama.
          “Ya” jawab Nada masih singkat.
          Beberapa saat setelah itu keduanya berjalan beriringan dalam diam, hingga di sebuah tikungan Nada menggamit lengan Tama.
          “Tam, bisa lebih sederhana gak dalam menguraikan sesuatu. Terkadang aku tidak terlalu pintar mencerna maksudnya” kata Nada.
          “Maksudmu?” Tama tidak mengerti.
          “Menurutku kamu terlalu rumit untuk dimengerti. Dan sebenarnya aku sama sekali tidak membutuhkan untuk bisa mengerti kamu, aku hanya ingin merasa nyaman berjalan disisimu, itu saja gak pakai ribet” Jelas Nada.
          “Jadi jangan jelaskan apapun yang tidak bisa kucerna, karena aku tidak sepintar kamu. Cukup biarkan aku mengerti kamu dengan caraku” Nada terdengar serius.
          Tak terasa sampailah mereka dideretan kamar cottage yang lokasinya paling ujung.
          “Itu kamarku” tunjuk Tama.
          “You’re kidding me. Kamarku disebelahnya” kata Nada.
          Mereka berdua menuju kamar Tama, Tama memutar anak kunci membuka pintu kamar cottage yang disewanya semalam. Pintu terbuka, ruangan didalamnya cukup lengkap ada tempat tidur dobel, sofa dan meja, mini bar lengkap dengan lemari esnya, dan juga kamar mandi. Tama membuka lemari es dan mengeluarkan dua botol jus jeruk dari dalamnya. Tama juga mengambil roti isi yang ada diatas meja mini bar. Diletakkan di meja sofa tempat Nada tengah duduk sambil membaca lembaran-lembaran print naskah Novel Tama yang diketiknya semalam. Laptop dan chargernya masih tergeletak diatas nakas sebelah tempat tidurnya.
          “Jadi bisa kita baikan lagi? Please? Aku tersiksa kalau tidak bisa melihat senyummu dan mendengar ceritamu. Seperti ada yang diambil dari diriku, tak lengkap lagi rasanya. Bahkan aku kehilangan ide untuk semua tulisanku” Tama mencoba berbaikan.
          “Loh kita kan tidak sedang bertengkar?” jawab Nada.
          “Terus apa dong namanya? Perang dingin?”
          “Gak juga”
          “Terus?”
          “Gak aja”
          “Baiklah, sepertinya kamu sedang tidak ingin membahasnya” kata Tama.
          Nada masih melanjutkan membaca-baca naskah Novel Tama, sambil memakan roti isi yang tersaji di depannya.
          Dan Tama duduk di sofa seberang Nada, dia hanya diam saja sambil memandang Nada tanpa berkedip, Tama memandang Nada penuh makna dan memperhatikan tiap gerak dan ekspresi Nada. Lama tak terdengar suara apapun, Nada baru menyadarinya. 
          “Ngapain lihat-lihat? Naksir?” Nada ketus.
          “Hahaha, gak cuma naksir tapi cinta berat”
          “Gombal” Nada melempar bantal kursi kemuka Tama.
          “Emang” kata Tama
          “Jadi kita baikan” kata Tama lagi sambil menyodorkan jari kelingkingnya yang melengkung mengharap Nada akan menyambutnya.
          “Kan sudah kubilang, kita tidak sedang bertengkar. Kita hanya butuh sedikit waktu untuk menyingkir sebentar, dan intropeksi diri. Hubungan kita sudah benar landasannya. Tuhan kita sudah merestuinya. Sehingga masalah apapun yang kita alami dalam menjalaninya, penyelesaiannya dikembalikan lagi kepada-Nya, sesuai kehendak-Nya, dan berdasarkan aturan-Nya. Termasuk permasalahan kemarin itu, yang anehnya kita menyingkir di tempat yang sama, mana kamarnya sebelahan lagi, sebuah kebetulan yang ditakdirkan. Tak ada yang perlu dimaafkan darimu. Aku juga harus minta maaf kepadamu kalau ada yang tidak berkenan dihatimu, suamiku” jelas Nada memperjelas permasalahan.
          “Bagaimanapun aku laki-laki, aku pemimpinnya. Pemimpinlah yang disalahkan apabila ada yang salah dengan bahtera yang dipimpinnya. Aku tetap minta maaf” kata Tama.
          Nada beranjak dari tempat duduknya dan membuka jilbabnya lantas menggantungnya di kastok dekat kamar mandi, kemudian diambilnya botol jus jeruk yang disuguhkan, Tama, suaminya tadi, Nada meneguknya sampai habis.
          “Judul novelmu apa Tam?”
          “Strawberry on The Shortcake” jawab Tama
          “Save the best for the last philosophy ya?”
          “yup
          “Kenapa gak pakai bahasa Indonesia saja, misalnya ‘Kusimpan Pupuk Terbaik Untuk Bunga Terindah’?”
          “Terlalu panjang”
           “Atau, stroberi diatas kue?”
           “oke, dipertimbangkan”   
          “It’s about me?”’
          Tama tersenyum dan menaikkan kedua bahunya. Dia menyerahkan lembar naskah berisi sebuah notes -tidak semua yang kutulis adalah aku, dan tidak semua yang kau baca adalah kamu-.
          Nada tertawa, hari ini ada satu lagi yang bisa dia mengerti dari Tama suami tercintanya. Pelan-pelan akan kucoba mengerti semua tentangmu Tam, pelan tapi pasti tujuannya. Dan disetiap hal yang kutemukan dalam mengerti tentang kamu, apapun itu, aku selalu merasa semakin bahagia. Batin nada.


Translate