Kamis, 31 Oktober 2019
Banner dan Flyer
Label: more than words can said
MyFootStep
Kamis, 17 Oktober 2019
Bergerak itu niscaya dan berhenti itu mati
Label: more than words can said
MyFootStep
Rabu, 19 Desember 2018
Stop Following Me
Eng
ing eng… I’m on the mission. Yup,
hari ini aku sedang dalam misi menyelidiki sesuatu dan aku harus tahu
jawabannya hari ini juga.
Tetapi
sebelumnya kenalkan dulu namaku Adri Krisna, perjaka tong-tong dari kota Pati.
Bagi yang tidak tahu Pati, kota ini terletak di pesisir pantai utara Jawa
Tengah bagian timur, bersebelahan dengan kota ukir Jepara. Tepatnya aku berasal
dari kecamatan Juwana. Kota Juwana ini merupakan kecamatan yang menghubungkan
Pati dengan kabupaten sebelah, kota penghasil garam Rembang. Kecamatanku
merupakan kota terbesar kedua di kabupaten Pati setelah kota Pati, kampung
halamanku itu terkenal dengan kerajinan kuningan dan olahan Bandeng.
Dan
sekarang, diusiaku yang ke duapuluhdua tahun, aku sedang merantau di Semarang
kota Atlas. Mendengar caraku bercerita seolah sedang mengajar geografi ya?
Tepat! Aku memang mahasiswa semester akhir, insyaalloh, di jurusan Geografi
Fakultas Ilmu Sosial disalah satu Universitas Negeri di Semarang. Dikelasku ada
dua orang yang bernama Adri, yakni diriku dan dan satunya lagi Adrian Maulana,
tapi bukan Adrian Maulana yang artis itu, kebetulan saja namanya sama. Maka
untuk mengidentikkan bahwa yang dimaksud adalah Adri yang ini, aku memakai nama
kotaku dibelakang namaku. Aku pun dikenal dengan sebutan Adri Juwana, terutama
di nama-nama akun social media.
Cukup
perkenalan singkat tentangku. Nah, sekarang akan kuceritakan misiku hari
ini, I’m following, stalking, tapping, recording, analizing, nasi
aking, loh, hehe on the conclution lagi jadi Shinichi Kudo
nih. Dan targetku adalah “DIA”, siapakan dia? itulah yang coba kucari tahu
identitasnya. Cewek itu sangat misterius, harusnya misis-ius ya?
bukan mister-ius, kan cewek bukan cowok.
Harus
kuceritakan juga kenapa aku harus menyelidiki cewek satu ini. Diantara kalian
ada yang percaya love in the first sight gak? Bukan, ini bukan
tentang cinta pada pandangan pertama. Tapi ini tentang hati, hatiku yang
langsung terbawa pergi olehnya dikali pertama aku berjumpa dengannya, di
perpustakaan kampus pagi ini. Karena itu sekuat tenaga aku harus berusaha
memastikan apakah hatiku berada di tempat yang tepat. Dan kalau ternyata tidak,
aku harus bisa merebutnya kembali dan menempatkannya kembali di tempat yang
benar. Saaaahh… bahasanya mulai puitis nih.
Kumulai
dengan mengikuti jejaknya, berasa seperti anjing pelacak nih. Tapi
aku melacak pakai mata bukan mengandalkan penciuman. Pertama kuikuti dia ketika
pertama kali keluar dari kampusnya, langsung kukenali cewek itu dari jauh
dengan jilbab biru mudanya. Dia sedang menuju parkiran, deretan di area parkir
motor dilewati begitu saja, menuju area parkir disebelahnya, dipencetnya sebuah
tombol kecil dari benda yang dipegang di genggaman tangannya. Tak jauh darinya
Chevrolet aveo hahctback warna biru metalik menerima respon,
sejurus kemudian cewek itu masuk dan melajukan si biru keluar gerbang fakultas
sastra.
Kusetarter
jagoan merahku, mengikuti si biru yang melaju kearah jalanan kota. Tidak sebut
merek ah, entar dikira produk sponsor, mana gak dibayar lagi, lah tadi
sebelumnya apaan? Bukannya sebut merk juga? Gimana sih tidak konsisten!, ya
sudahlah!. Singkat cerita, ternyata sibiru metalik berhenti dipelataran parkir
sebuah coffee shop “Blue Café”, cewek berjilbab biru itu turun
dari si biru metalik menuju café biru dan memilih duduk di
deretan kursi biru disalah satu sisi café yang berdekatan
dengan kaca yang juga bernuansa biru. Nah loh kenapa jadi serba biru begini,
mana sayup-sayup dari dalam café terdengar alunan lagu “Malam
Biru”nya Sandhi Sondoro, komplit sudah serba birunya, ditambah hatiku yang juga
membiru.
Kuparkirkan
juga si bebek merahku diparkiran café yang sama, akupun masuk
dan mengambil tempat duduk jauh di sudut café ditempat yang
tidak terlalu mencolok perhatian dari posisi duduk si jilbab biru. Kuambil
majalah dari etalase tak jauh dari tempatku duduk. Seorang waiter datang
menghampiri dan menyodorkan booklet menu kehadapanku. Karena
ini coffee shop, maka banyak sekali ragam kopi yang ditawarkan
dalam daftar menu dihadapanku. Aku bukan penggemar kopi jadi aku pilih saja
yang ringan, cappuccino latte dengan topping karamel dan onions rings jadi pilihanku.
Setelah waiter meninggalkan mejaku kembali mataku mengamati
meja di pinggir kaca café, si jilbab biru sedang menikmati cangkir
kopinya ditemani french fries di piring cemilannya. Sambil
menyentuh-nyentuh screen enam inch phablet warna pink di
tangannya, kok bukan biru? Tidak harus biru juga kan? Tidak harus dibahas juga
kan?.
Dari
tempatku duduk aku tak bisa melihat apa yang sedang cewek itu lakukan dismartphone-phabletnya,
kayaknya harus menggunakan teleskop nih. Karena tak bisa melihat jelas, sejenak
kemudian kuputarkan pandangan mataku ke seputar ruangan café, di tengah
ruangan ada meja racik kopi dan di sana dua orang barista sedang melakukan
keahliannya meracik minuman kopi. Tak lama kemudian waiter kembali
mendatangi mejaku untuk mengantarkan pesananku. Cangkir warna biru berisi cappuccino
latte yang diletakkan diatas mejaku itu diatas buihnya ada pasta karamel
membentuk hati, mengingatkanku kembali akan misi yang sedang kulakukan. Maka
sontak mataku kembali melihat ke arah cewek itu.
Sepertinya
dia sedang ingin berlama-lama di café ini, atau…? Tiba-tiba
terlintas di pikiranku kalau dia sedang menunggu seseorang? Ya, betul
sepertinya cewek itu sedang janjian ketemu dengan orang lain di café ini.
Tapi siapa ya? Akupun mereka-reka semua kemungkinan di otakku, cowoknya? Ah gak
mungkin masa cewek berjilbab rapi seperti itu punya cowok, temannya? Atau
keluarganya? Ah, gak tahu ah…
Bel
di pintu café berdenting kala terbuka, dan seorang perempuan
paruh baya memasuki ruangan. Haruskah kugambarkan bagaimana rupa perempuan itu?
aku berpikir adakah relevansinya perempuan itu dengan misiku? Ya pokoknya walau
tak muda lagi tetapi perempuan yang tengah duduk di hadapan jilbab biru itu
masih meninggalkan gurat-gurat cantik masa mudanya. Aku tidak melihat kemiripan
wajah dengan si jilbab biru, jadi kusimpulkan saja tidak ada hubungan darah
antara keduanya.
Si
jilbab biru memanggil waiter dan menawarkan pesanan kepada
tamunya. Aku sempat berpikir sepertinya café ini bukan tempat
pertemuan yang lazim untuk dua orang yang sedang kuamati itu. Ya, karena tempat
ini identik dengan tempat kongkownya anak muda gaul, dan itu sama sekali tidak
cocok dengan profil dua perempuan yang tengah keperhatikan itu. Kecuali mereka
memang penggemar berat kopi atau mereka adalah pemilik atau manajemen
dari café ini. Ah, haruskah aku menemukan jawaban dari
pertanyaanku itu, kembali kutanyakan relevansinya dengan misiku. Apakah itu
berkaitan dan berpengaruh langsung pada hatiku yang tengah kuperjuangkan? Only
God knows, halah ujung-ujungnya gitu, bukannya harus begitu?.
Tapi
memang seringkali seperti itu, kita terkadang susah menemukan jawaban dari
pertanyaan yang bukan kita pembuat pertanyaannya. Jadi kalau ingin selalu
menjawab benar untuk setiap pertanyaan, buatlah pertanyaanmu sendiri. Tetapi
kalau menjawab pertanyaan yang dibuat oleh orang lain ada kemungkinan kita
salah menjawabnya, meski ada juga kemungkinan kita benar menjawabnya. Kok jadi
membicarakan tanya-jawab sih, seperti dah jadi guru saja yang salah satu
tupoksinya membuat pertanyaan sekaligus membuat jawaban dari pertanyaan
tersebut. Hehe, Insyaalloh kalau tahun ini lulus kuliah, siap deh jadi guru
geografi.
Kembali
ke misiku, setelah membicarakan sesuatu yang menurut dugaanku masalah yang
penting, keduanya sepertinya sudah mencapai kesepakatan yang aku tidak tahu
membicarakan apa dan menyepakati apa. Wah selain kurang teleskop kayaknya harus
bawa penyadap suara juga nih. Lantas keduanya berdiri, saling bersalaman dan
cipika-cipiki, lantas perempuan paruh baya itu pun pergi meninggalkan si jilbab
biru sendiri. Namun tak lama kemudian si biru pun memanggil waiter untuk
menanyakan bill dan segera bersiap untuk pergi.
Sebuah
kode bagiku untuk juga ikut beranjak pergi, kulakukan hal yang sama dengan si
jilbab biru, memanggil waiter dan membereskan bill.
Aku tetap menjaga jarak tatkala aku kembali mengikuti si jilbab biru, kali ini
dia tidak menuju ke si biru metalik di parkiran tetapi berjalan kaki menyusuri
trotoar di sepanjang komplek pertokoan di blok ini. Berjalan santai
sambil sight-seeing ke etalase-etalase toko sepanjang jalan
ini. windows shopping? Itukah yang sedang dilakukannya? Aku terus
menebak-nebak dalam pikiranku, sampai aku menyadari sesuatu. Dia memang sengaja
berjalan kaki diantara kaca-kaca etalase toko itu, karena kaca-kaca itu bisa
memantulkan sesuatu dibelakang si jilbab biru. Ya, dia tahu kalau dia sedang
diikuti olehku, tapi aku tidak tahu sejak kapan dia tahu.
Kemudian
di taman kecil di ujung blok si jilbab biru menghentikan langkahnya.
Membalikkan badan dan memanggilku, setelah aku mendekat dia berkata dengan
tegas. “Berhenti mengikutiku!”. Mungkin karena kurang
berhati-hati, kunci mobil ditangannya terjatuh, dan tatkala dia membungkuk
untuk mengambilnya. Sesuatu yang berbulu keluar dari tas biru yang di bawanya.
Setelah mendapatkan kembali kunci mobilnya dia segera berajak pergi
meninggalkanku yang terbengong-bengong sendiri. Sekian detik setelah kutersadar
segera kupungut sesuatu yang berbulu yang jatuh dari tas cewek itu.
“Cup,
cup, cup, Hati-ku sayang… kamu baik-baik saja kan?” kataku sambil memungut
hamster putih binatang piaraanku yang pagi tadi di perpustakaan tanpa sengaja
meloncat masuk ke tas cewek berjilbab biru yang segera pergi sebelum aku sempat
mengambil binatang kesayanganku itu. “Hati-ku sayang, kamu tidak boleh nakal
lagi, aku sangat megkhawatirkanmu, tidak boleh masuk sembarangan ke tempat
orang lain ya?”. Sekarang kenalkan ini hamster kesayanganku, namanya Rohati,
aku biasa memanggilnya Hati.
Sejenak
aku terdiam sepertinya aku lupa sesuatu, apa ya? Ya, aku lupa menjelaskan yang
sebenarnya kepada cewek berjilbab biru itu, ia pasti telah salah paham karena
kuikuti seharian ini. Duh, Sinichi Kudo yang gagal misi. Kalian pasti aneh
kenapa harus pakai stalking diam-diam
gak ngomong langsung saja dari awal? aku pun menanyakan
pertanyaan yang sama, tapi aku tak pernah menemukan jawabannya. Tapi meski aku
tidak tahu jawabannya, setidaknya aku tahu hikmahnya, kalau aku menanyakan
langsung dari awal, tidak akan ada cerita pendek ala Sinichi Kudo yang gagal
misi ini. Rencananya cerpenku ini akan ku kirimkan ke majalah favoritku. Kan,
apa ku bilang selalu ada hal positif dibalik setiap kejadian.
Label: more than words can said
Coretanku
Selasa, 18 Desember 2018
WHAT'S WRONG WITH THIS PICTURE?
Menjelang matahari
kembali pulang ke peraduan, sinarnya melembut dan temaram. Hangatnya yang
tak lagi menyengat dan semburatnya menghias cakrawala barat dengan saga.
Momentum yang tidak akan pernah diprotes oleh manusia manapun di dunia, yang
biasanya selalu mengeluhkan panasnya mentari. Mungkin jaman sekarang, mengeluhkan
panasnya cuaca di tengah hari sudah menjadi kebiasaan baru manusia, hatta itu
hanya di status media sosialnya. Tak pernah ditemui ada yang mengumpat tentang
senja. Yang ada menggores sajak dan kisah dari sang senja. Senja akan
selalu dirindukan seluruh umat manusia di dunia yang membutuhkan rebah untuk
sebongkah raga dan istirah untuk sepenggal jiwa.
Disuatu masa di suatu
waktu menjelang senja, dua pasang kaki menapaki jalan inspirasi untuk berburu
senja. Kumandang Ashar yang baru saja menghilang menjadi pertanda perburuan
segera dimulai. Dua pasang mata pemburu menyusur sudut, adakah obyek buruan
yang indah dan pantas ditangkap dan diabadikan dalam gambar. Menelisik segala
pandang, sepasang pemburu ini menggenggam mantap senjata di tangan. Memantapkan
target tujuan, senjatapun didekatkan di pandangan dan “shot!” klik tombol
kamera menangkap buruan.
Kaki-kaki para pemburu
menapak pematang sawah yang padinya masih hijau menghampar, setelah jepretan
kamera mencoba menangkap beberapa sudut gambar. Sepasang pemburu
mengambil jeda.
“Kita istirahat dulu
di pondok itu” kata si lelaki menunjuk sebuah pondok kecil di tengah sawah.
Sang wanita, menurut
saja mengikuti langkah kaki di depannya. Duduk bersebelahan, membicarakan hasil
jepretan kamera sore ini.
Seraya duduk
dibukanya view gambar pada kamera DSLR yang dipegangnya sang
wanita memulai bicara “Panning*)ku kurang sempurna” seraya menyodorkan
kamera pada sang lelaki.
“Coba lihat”
diterimanya kamera dari si wanita.
“Setelan diafragmanya
dan kecepatannya sudah pas kok, mungkin pergerakan kamera dengan obyeknya yang
tidak pas, nanti di coba lagi, pulangnya kita lewat jalan raya”.
“Framing**)
kamu keren, pohon berbentuk Y itu sempurna membingkai obyek” sang wanita
tersenyum, melihat hasil jepretan si lelaki.
“Ya, sangat sempurna,
karena obyeknya adalah dirimu” kedipnya menggoda si wanita.
Disambut rona sipu si wanita. Kemudian, dilihat-lihat lagi gambar
lainnya hasil buruan mereka, dan akhirnya terhenti pada sebuah gambar.
“Ada yang salah dengan
potret ini?” gumam si wanita melanjut bincang.
Dilongoknya gambar
yang dimaksud oleh wanitanya. “Itulandscape***), aku mengambilnya saat
kita lewat masjid kampus bada Ashar tadi, apanya yang salah?”
“Aku tidak tahu apa,
tapi ada sesuatunya yang salah, coba deh kamu lihat lagi."
“Gambar masjid utuh
sebagai latar belakang, komposisi langit sepertiganya, aktifitas orang yang
lewat di depannya terlihat natural, apanya yang salah?” jelas si lelaki sambil
mengejar tanya.
“Entahlah. Kau yang
mengambil gambarnya, kau bantu aku tuk menjelaskan dimana letak salahnya.
Sebenarnya pesan apa yang ingin kau sampaikan kepada penikmat gambar saat kau
menyajikan gambar ini?”
Angin menghembus
meniup rambut si lelaki yang mulai memanjang. Sedetik kemudian titik-titik
halus turun bersusulan jatuh dari langit yang sebenarnya tidak bisa dikatakan
gelap. Kemudian datanglah pelangi. Seandainya saja ada satu lagi kamera lain
yang menangkap pemandangan sempurna ini dari arah tenggara yang menangkap
gambar ini. Meskipun demikian setidaknya gambar itu sudah terekam baik oleh
sepasang manusia itu, terekam dengan kamera hati tersimpan abadi dalam ingatan
keduanya. Yang tengah dimabuk asmara, yang tengah memadu cinta. Lihatlah!
sebuah sudut gambar yang sempurna, sepasang anak manusia yang tengah duduk berdua
di pondok kecil ditengah hamparan padi yang warna hijaunya merata, dengan latar
belakang Gunung Slamet yang kokoh dan jelas menjulang dibelakangnya, dilengkapi
pelangi yang melengkung di atasnya. Gambar yang sempurna!
Mata lelaki itu
menatap lembut wanitanya, yang tengah kebingungan. “Kucoba menguraikannya
untukmu, tetapi sebelumnya beri aku petunjuk bagian mana yang tidak kau
mengerti sehingga kau merasa ada yang salah dengan potret itu?”
Tak urung, sesudut
senyum tersungging juga di bibir si wanita menerima tatap teduh dari pujaan
hatinya “Mungkin bagian ini” jari telunjuknya menunjuk ke satu titik gambar.
Dengan sabar si lelaki
menanti penjelasan.
Jari sang wanita
menunjuk pada sebuah gambar, terlihat di halaman masjid ada sekeluarga yang
baru turun dari sebuah mobil, dari jauh model dan logonya seperti family car dari
brand terkenal di Indonesia. Kemungkinan keluarga ini berasal dari luar kota
dan yang kebetulan melewati kota ini saat Ashar tiba, mampir ke masjid untuk
menunaikan sholat Ashar, platnya B, jelas bukan dari kota ini.
Keluarga yang lengkap, sebuah keluarga muslim yang lengkap, ada Ayah, Ibu, dan
kedua anaknya, seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki.
Sebuah gambaran
keluarga yang siapapun yang melihatnya akan melihat sebagai potret sebuah
keluarga yang ideal dan berbahagia. Si suami terlihat mapan, sukses dan
menjabat, dengan penampilannya yang santun dan sholeh. Sang Istri yang
berjilbab rapi, sangat cantik, anggun dan berkelas terlihat seperti berasal
dari latar belakang keluarga yang terpandang dengan sangat keibuan menggandeng
kedua anaknya yang masih kecil-kecil. Mendampingi suami tercinta, menjajari
langkahnya. Melihat sang istri, sungguh sangat sempurna, mencoba membandingkan
denganku, tentu saja bukan bandingannya, aku kalah telak, kalah cantik, kalah
anggun, kalah berkelas, kalah pengaruh, kalah dewasa, kalah keibuan kalah
segalanya. Sungguh bodoh lintasan pikiranku yang mencoba membandingkanku
dengan sang istri.
Lelaki bermata teduh
masih sabar menunggu penjelasan wanita dihadapannya yang masih mengalur
pada jalinan angannya sendiri, tak sepatahpun kata keluar dari mulut
lelaki itu tuk mendesak jawab, meski rasa penasaran mengusai pikirnya.
Sementara sang wanita
masih mengembara di angannya menyaksi gambar di layar kamera yang dipegangnya.
Ada yang salah! ya, aku tahu ada yang salah pikirnya, tapi apa?. Kembali
matanya menyelusur semua potret yang dijepret kekasihnya, dan hatinya mulai
menganalisa. Ya, itu dia!
Dari gambar-gambar
tersebut sang suami terlihat tidak berbahagia, tak satu pun dari beberapa
potret yang dijepret oleh kekasihnya si lelaki bermata teduh, yang
menunjukkan ekspresi muka sang suami pada potret terlihat berbahagia bersama
dengan istrinya. Dari beberapa hasil jepretan yang tengah dilihatnya, mata sang
suami selalu tertuju pada sebuah benda kecil yang tergenggam di tangannya,
telepon genggam! Ya itu sebuah telepon genggam. Seakan jiwanya tidak berada di
tempat yang sama dengan tubuhnya. Melainkan melayang jauh di suatu tempat yang
tak diketahui rimbanya. Kini aku tahu apa yang salah!
“Salah teknik kayaknya
sayang” tutur si wanita.
Kening si lelaki
berkerut “Maksudmu?”.
“Kekuatan hasil
jepretan fotografi yang menggunakan teknik landscape. Seharusnya
bercerita tentang komposisi yang proporsional akan obyek yang ingin disajikan.
Panorama masjid sore hari misalnya. Kalaupun ada makhluk hidup di dalamnya itu
hanya melengkapi suasana panorama masjid yang ingin disuguhkan” berhenti
sejenak, disusul sebuah senyum lembut, dipegangnya tangan lelaki kekasihnya.
“Kebetulan kau
menangkap gagasan lain dari fotografi, kita mengenalnya sebagai gambar
ekspresif, fotografi yang menangkap perasaan manusia sebagai obyeknya.
Bisa jadi sudut pengambilan gambarmu juga yang menyebabkan gambarmu tertangkap
berbeda, seperti bukan landscape” berhenti sejenak, melihat
ekspresi lelakinya yang sangat sabar dan kemudian melanjutkan kembali
penjelasan.
“Fokus dari gambarmu
adalah keluarga ini yang ada tepat ditengah pintu masjid, bukan masjidnya,
bahkan komposisi langit dan obyek, sedikit kurang pas”
Di acaknya kepala sang
wanita, lelaki bermata teduh itu sangat mengenal wanita pendamping hidupnya itu
“Tapi bukan teknikku yang salah kan yang mengganggu pikiranmu?”
Ada yang menggenang
disudut mata sang wanita “Ya kau benar bukan itu yang mengganggu pikiranku….”
Menghela nafas sejenak “Karena aku mengenal keluarga ini tapi aku tidak
mengerti kenapa harus ada yang terlihat tidak berbahagia padahal apa yang
dimiliki mereka jauh diatas yang dimiliki rata-rata orang sedunia, jauh diatas
yang dimiliki oleh kita. Ada yang salah dengan gambarnya, atau aku yang salah
menerjemahkan gambarnya”
Warna saga di cakrawala berubah menghitam, titik-titik air langit berubah
menderas, sang matahari tepat berada di ufuk barat di titik peraduannya. Sayup
di kejauhan terdengar kumandang Adzan Maghrib memanggil para sahaya untuk
menghadap sang Tuan. Di tengah derasnya hujan dan mulai menggelapnya alam,
sosok lelaki bermata teduh perlahan memudar dan lama-kelamaan menghilang lenyap
tak berbekas bahkan satu noktah pun tak tersisa. Meninggalkan sang wanita dalam
kebingungan, ternyata teman bicaranya sedari tadi hanyalah teman hayalannya
saja, sosoknya tidak nyata, namun hadir begitu nyata dihadapannya lengkap
dengan kepribadian, peran, dan dunia yang mengkonstruknya.
Belum hilang
kebingungannya, sang wanita semakin tak mengerti tatkala dilihatnya tangannya
mulai transparan dan menjalar ke bagian tubuhnya yang lain. Semakin tipis dan
makin menipis hingga hanya menjadi titik-titik. Dia mengalami hal yang sama
dengan kekasihnya tadi, dirinya dalam proses menghilang. Di ujung
sadarnya sang wanita menyadari bahwa dirinya pun hanya sebuah hayalan, bagian
dari imaginasi sebuah pikiran, dirinya lahir sebagai karakter dalam kisah yang
dituliskan oleh penulis begitu nyata lengkap dengan sifat dan dunia yang
ditinggalinya. Dirinya lahir dari kata-kata yang dirangkai menjadi kalimat,
kemudian disusun menjadi sebuah cerita.
Dan di detik terakhir
sebelum wanita itu menghilang, sesimpul senyum termanis tersungging sangat
jelas seraya memandangmu yang mulai mengerti. Ya, kamu yang sedang membaca
cerpen ini, kamu masih bisa melihat senyum sang wanita dengan jelas. Bahkan
saat tatap matanya menatapmu dan kemudian lenyap menghilang. Selamat datang di
dunia imaginasi kawan, dimana ketidakmungkinan adalah bukan apa-apa!.
Sekarang jawablah apa yang salah dari potret ini?!
*)Panning : teknik fotografi untuk memotret obyek
yang bergerak, mobil lewat misalnya, hasilnya obyeknya terlihat jelas
tetapi backgroundnya blur, caranya dengan menyetel diafragma besar
dan kecepatan rendah pada kamera manual kemudian pengambilan gambarnya dengan
menggerakkan kamera mengikuti benda yang bergerak.
**)Framing : framing pada fotografi berbeda
dengan framing pada teori media massa. Framing adalah teknik
fotografi dengan membingkai obyek menggunakan obyek lainnya.
***)Landscape : Teknik fotografi yang memotret
banyak obyek dengan komposisi tertentu, salah satu obyeknya menjadi obyek
utama.
Label: more than words can said
Coretanku
Sabtu, 15 Desember 2018
Strawberry on the shortcake
Cottage di puncak itu
bernuansa modern namun banyak ruang terbuka hijau didalamnya. Sudut-sudutnya
ditata sangat artistik, ditambah lagi konsep kebun binatang mini, dimana hewan
jinak seperti rusa, kelinci dan angsa dibiarkan bebas melintas di taman-taman.
Kolam ikan yang berada hampir disetiap barisan cottage menambah
asri suasana dengan gemericik suara airnya.
Bagi seorang penulis
situasi seperti di cottage itu sangat menginspirasi dan bagi
seorang fotografer sungguh obyek buruan yang berharga untuk diabadikan dalam
gambar. Oleh karenanya banyak yang sengaja mendatangi cottage ini
hanya untuk sekedar mencari inspirasi. Dan di cottage inilah
di sebuah pagi Nada seorang fotografer dan Tama seorang
penulis secara tidak sengaja bertemu disalah satu sudutnya.
Nada sedang menjepret
kumpulan rusa yang tengah merumput di padang terbuka hijau tatkala, sebuah
suara yang sangat dikenalnya dengan baik menyapanya.
“Pakai teknik apa nih
memotretnya?” sapa Tama.
Nada menoleh sebentar
dan menjawab asal “Teknik sipil, because I’m civilian”.
Mendengar jawaban asal
dari Nada, “Kamu masih emosi ya Nad?, kan aku dah minta maaf” kata Tama.
“Kalau ‘emosi’ itu
nama makanan yang lembut, manis, aneka rasa, dingin dan beku, ya, sekarang aku
sedang ingin sekali emosi…” Nada menoleh ke suatu arah, “Bang, es krim bang!”
didekatinya café cottage tak jauh dari tempatnya memotret,
seraya meminta dua buah es krim cone rasa coklat dan satu
lagi strawberry.
“Kamu mau ‘emosi’ juga
Tam?” tanya Nada sembari menyodorkan es krim rasa coklat ke tangan Tama yang
tengah duduk di kursi taman. Nada mengambil tempat disampingnya. Sementara es
krim strawberry sudah berkurang dua gigitan karena dimakannya.
Mau tak mau Tama
tersenyum, dengan cara Nada menjawab pertanyaannya. Alih-alih mengambil es krim
yang di sodorkan kepadanya, Tama malah mengambil es krim di tangan Nada yang
sudah hilang toping saus strawberry diatasnya
karena sudah dijilat Nada.
“Aku lebih suka yang
ini” cuek saja tama langsung memakan es krim strawberry yang
sudah dimakan Nada bagian atasnya.
“I knew, it’s mean
indirect kiss to you right? Just like drink from the same glass, I’d remember
that” respon Nada sedikit menggumam, namun dia biarkan saja apa yang
dilakukan Tama.
“Bahasa
Indonesia dong, biar aku tidak salah mengerti” Tama memandang Nada.
“Jangan
minta diterjemahkan, artinya aneh banget” sepertinya Nada asal menjawab lagi.
“Aneh
bagaimana?” Tama tambah penasaran.
“Artinya,
kamu ganteng banget, aneh kan? Pertama, aneh karena tidak ada hubungannya
dengan pembicaraan kita, kedua, aneh karena tidak sesuai dengan kenyataannya?”
Nada semakin asal menjawab.
Tama
sempat tertawa mendengar jawaban Nada “Sepertinya kamu memang masih marah
padaku” Tama mencoba berkesimpulan.
“Kalau
‘marah’ adalah nama hewan putih, berbulu, lucu, imut, suka meloncat, bermata
bening dan bertelinga panjang, ya, aku ingin memotret ‘marah’ untuk kuabadikan
dengan kameraku” jawab Nada sambil mengarahkan moncong kameranya kearah sekawan
kelinci yang bermunculan dari semak daun diseberang kolam ikan.
Tak
urung Tama kembali tertawa atas jawaban Nada, ringan namun dalam. “Aku tak suka
‘marah’ yang itu, kamu pasti tak percaya dulu waktu aku kecil aku pernah digigit
oleh ‘marah’ berbulu putih yang suka meloncat itu” Tama mengikuti gaya Nada.
“Hahaha…”
sekarang ganti Nada yang tertawa.
Setelah
menghabiskan es krim mereka berdua menyusuri, jalan setapak yang ada
di cottage tersebut, sambil sesekali Nada menjepretkan
kameranya ke beberapa arah. Tama menjajari langkah Nada. Mereka
berdua masih terlibat dalam pembicaraan, atau lebih tepatnya perdebatan.
“Apa
yang sedang kamu tulis?” tanya Nada.
“Sekarang
kamu perduli?” Tama berhenti sejenak, menoleh ke wanita disampingnya yang hanya
tersenyum tipis merespon pertanyaannya.
“Novel” lanjut Tama.
“Tentang
apa?” tanya Nada lagi.
“Biasa,
tidak pernah jauh-jauh dari romance”
jawab Tama.
“Huh,
aku selalu merasa aneh. Kamu begitu pintar menuliskan cinta dalam novelmu
seakan itu benar-benar nyata dan terjadi. Tapi aku selalu gagal paham menangkap
cintamu di dunia nyata” kata Nada.
“Jadi
itukah yang kau rasakan tentangku?” tanya Tama.
“Ya”
jawab Nada singkat.
“Maaf”
kata Tama.
“Ya”
jawab Nada masih singkat.
Beberapa
saat setelah itu keduanya berjalan beriringan dalam diam, hingga di sebuah
tikungan Nada menggamit lengan Tama.
“Tam,
bisa lebih sederhana gak dalam menguraikan sesuatu. Terkadang aku tidak terlalu
pintar mencerna maksudnya” kata Nada.
“Maksudmu?”
Tama tidak mengerti.
“Menurutku
kamu terlalu rumit untuk dimengerti. Dan sebenarnya aku sama sekali tidak
membutuhkan untuk bisa mengerti kamu, aku hanya ingin merasa nyaman berjalan
disisimu, itu saja gak pakai ribet” Jelas Nada.
“Jadi
jangan jelaskan apapun yang tidak bisa kucerna, karena aku tidak sepintar kamu.
Cukup biarkan aku mengerti kamu dengan caraku” Nada terdengar serius.
Tak
terasa sampailah mereka dideretan kamar cottage yang lokasinya
paling ujung.
“Itu
kamarku” tunjuk Tama.
“You’re
kidding me. Kamarku disebelahnya” kata Nada.
Mereka
berdua menuju kamar Tama, Tama memutar anak kunci membuka pintu kamar cottage yang
disewanya semalam. Pintu terbuka, ruangan didalamnya cukup lengkap ada tempat
tidur dobel, sofa dan meja, mini bar lengkap dengan lemari esnya, dan juga
kamar mandi. Tama membuka lemari es dan mengeluarkan dua botol jus jeruk dari
dalamnya. Tama juga mengambil roti isi yang ada diatas meja mini bar.
Diletakkan di meja sofa tempat Nada tengah duduk sambil membaca
lembaran-lembaran print naskah Novel Tama yang diketiknya semalam. Laptop dan
chargernya masih tergeletak diatas nakas sebelah tempat tidurnya.
“Jadi
bisa kita baikan lagi? Please? Aku tersiksa kalau tidak bisa
melihat senyummu dan mendengar ceritamu. Seperti ada yang diambil dari diriku,
tak lengkap lagi rasanya. Bahkan aku kehilangan ide untuk semua tulisanku” Tama
mencoba berbaikan.
“Loh
kita kan tidak sedang bertengkar?” jawab Nada.
“Terus
apa dong namanya? Perang dingin?”
“Gak
juga”
“Terus?”
“Gak
aja”
“Baiklah,
sepertinya kamu sedang tidak ingin membahasnya” kata Tama.
Nada
masih melanjutkan membaca-baca naskah Novel Tama, sambil memakan roti isi yang
tersaji di depannya.
Dan
Tama duduk di sofa seberang Nada, dia hanya diam saja sambil memandang Nada
tanpa berkedip, Tama memandang Nada penuh makna dan memperhatikan tiap gerak
dan ekspresi Nada. Lama tak terdengar suara apapun, Nada baru
menyadarinya.
“Ngapain
lihat-lihat? Naksir?” Nada ketus.
“Hahaha,
gak cuma naksir tapi cinta berat”
“Gombal”
Nada melempar bantal kursi kemuka Tama.
“Emang”
kata Tama
“Jadi
kita baikan” kata Tama lagi sambil menyodorkan jari kelingkingnya yang
melengkung mengharap Nada akan menyambutnya.
“Kan
sudah kubilang, kita tidak sedang bertengkar. Kita hanya butuh sedikit waktu
untuk menyingkir sebentar, dan intropeksi diri. Hubungan kita sudah benar
landasannya. Tuhan kita sudah merestuinya. Sehingga masalah apapun yang kita
alami dalam menjalaninya, penyelesaiannya dikembalikan lagi kepada-Nya, sesuai
kehendak-Nya, dan berdasarkan aturan-Nya. Termasuk permasalahan kemarin itu,
yang anehnya kita menyingkir di tempat yang sama, mana kamarnya sebelahan lagi,
sebuah kebetulan yang ditakdirkan. Tak ada yang perlu dimaafkan darimu. Aku
juga harus minta maaf kepadamu kalau ada yang tidak berkenan dihatimu, suamiku”
jelas Nada memperjelas permasalahan.
“Bagaimanapun
aku laki-laki, aku pemimpinnya. Pemimpinlah yang disalahkan apabila ada yang
salah dengan bahtera yang dipimpinnya. Aku tetap minta maaf” kata Tama.
Nada
beranjak dari tempat duduknya dan membuka jilbabnya lantas menggantungnya
di kastok dekat kamar mandi, kemudian diambilnya botol jus jeruk yang
disuguhkan, Tama, suaminya tadi, Nada meneguknya sampai habis.
“Judul
novelmu apa Tam?”
“Strawberry
on The Shortcake” jawab Tama
“Save
the best for the last philosophy ya?”
“yup”
“Kenapa
gak pakai bahasa Indonesia saja, misalnya ‘Kusimpan Pupuk Terbaik Untuk Bunga
Terindah’?”
“Terlalu
panjang”
“Atau, stroberi diatas kue?”
“oke, dipertimbangkan”
“It’s
about me?”’
Tama
tersenyum dan menaikkan kedua bahunya. Dia menyerahkan lembar naskah berisi
sebuah notes -tidak semua yang kutulis adalah aku, dan
tidak semua yang kau baca adalah kamu-.
Nada
tertawa, hari ini ada satu lagi yang bisa dia mengerti dari Tama suami
tercintanya. Pelan-pelan akan kucoba mengerti semua tentangmu Tam, pelan tapi
pasti tujuannya. Dan disetiap hal yang kutemukan dalam mengerti tentang kamu,
apapun itu, aku selalu merasa semakin bahagia. Batin nada.
Label: more than words can said
Coretanku
Langganan:
Postingan (Atom)
















