Rabu, 08 Mei 2013

Rewind


 
            Waktu memang tidak bisa di putar ulang seperti kaset. Tetapi ingatan kita akan waktu dan apa yang sudah kita lakukan, katakan, bahkan pikirkan, semua yang dijalani didalam waktu bisa kita ingat kembali. Ingatan itulah yang bisa di rewind. Entah kenapa hari ini ingatanku melayang kembali kesebuah waktu yang aku tidak ingat kapan itu, hanya ingat momennya dan apa yang kukatakan pada waktu itu.
Saat itu Senin pagi, kalau tidak salah awal semester dua, sekitar bulan Januari, jam digital di dinding gerbang sekolah menunjukkan pukul 06.55. Ustadz Jusup Sutjahjo atasanku, menghampiriku “Afwan Ustadzah, anti bisa menjadi pembina upacara untuk hari ini? Jadwalnya belum dibuat”. Entah kenapa jawaban spontan yang keluar dari mulutku adalah “Siap Ustadz”. Wow, tunggu dulu Lia, tidak bisa main siap saja, menjadi Pembina upacara berarti harus memberikan tausiyah sebagai amanat Pembina upacara, mau ngomong apa? Apa yang bisa disiapkan dalam lima menit? Tuing! Tiba-tiba ada lampu terang menyala di atas kepalaku. Aku tahu apa yang harus kusampaikan di depan murid-muridku nanti.
Ikatlah ilmu dengan kitab (yaitu: dengan menulisnya), hadits sahih tersebutlah yang menjadi solusi “mendadak” dari situasi yang kuhadapi. Aku memang tidak menyiapkan materi apapun untuk tausiyah pagi itu, tetapi ilmu yang sudah pernah dituliskan akan lebih lama tersimpan dimemori otak kita dibandingkan dengan ilmu yang pernah kita dengarkan. Seperti kata seorang filosof dari China Confusius, I hear and I forget, I see and I remember. I do and I understand (aku dengar aku lupa, aku lihat aku ingat, aku lakukan aku paham dan mengerti). 
Aku ingat aku pernah menulis sesuatu belum lama ini, (pikirku waktu itu) yakni artikel tentang hebatnya pengaruh pikiran kita terhadap karakter, yang waktu itu kukirimkan di kolom remaja di salah satu majalah pendidikan. Terimakasih, Alhamdulillah hobiku ada manfaatnya juga. Akhirnya itulah yang kusampaikan di depan murid-muridku sebagai Pembina upacara. Isinya kalau dirangkum kurang lebih intinya sebagai berikut,
Judul artikelku adalah The Power of Thought (kekuatan pikiran). Isinya adalah tentang sesuatu yang biasanya kita remehkan justru hal itulah yang bisa menjerumuskan kita atau juga sebaliknya bisa mengantarkan kita menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih sukses bila kita menyadari  untuk tidak menyepelekan. Diantaranya adalah pikiran, masih sedikit yang menyadari betapa dasyat pengaruh dari pemikiran yang menetap di otak kita itu. Artikel tersebut dimulai dengan sebuah kisah yang diambilkan dari sebuah kisah chicken soup for the soul.
Serombongan katak berjalan-jalan dihutan, tiba-tiba dua ekor katak terjatuh kedalam lubang yang teramat dalam. Katak-katak yang lain spontanitas mengerumuni lubang dan meneriaki kedua katak tersebut. Lebih baik mereka berdua mati saja karena lubang tersebut teramat dalam dan tidak mungkin bisa didaki. Katak yang satu mulai berputus asa tatkala merasa sudah lelah mencoba akhirnya dia pun berhenti mencoba dan berpasrah untuk mati. Akan tetapi katak yang satunya tanpa kenal lelah mencoba-dan terus mencoba, dan tidak pernah berhenti tatkala satu dua rintangan menghalang, semua diterjang tanpa mengenal putus harapan. Akhirnya setelah sekian lama berpayah-payah melompat dan memanjat akhirnya katak itupun berhasil naik kembali keatas. Dan disambut oleh teman-temanya yang kebingungan, bagaimana kau bisa terus melakukannya padahal kami semua bilang itu tidak mungkin? Ternyata katak tersebut mempunyai gangguan pendengaran, sehingga teriakan teman-temannya yang melemahkan terdengar seperti sedang menyemangatinya. Itulah yang dari awal tertanam di otak katak kedua ketika teman-temannya berkomentar. Sementara katak satunya mati karena putus asa, dia berhasil melewati hambatannya.
Sebuah pelajaran berharga dari katak semoga kita mampu mengambil hikmahnya. Kemudian artikel tersebut dikaitkan dengan kondisi terkini dari murid-muridku. Fenomena yang terjadi di lingkungan sekolah akhir-akhir ini adalah begitu gampangnya keluar kata-kata keluhan sebagai respon atas apapun yang oleh otak diterjemahkan sebagai sebuah beban. Misalnya, tatkala ustadz/ustadzah mengumumkan besok libur dua hari, ustadz/ustadzah memberikan tugas untuk belajar di rumah. Respon yang pertama kali keluah adalah LLAAAAAAHHHHH… kompak semua murid menjawab begitu.
Hati-hatilah dengan pikiran, pikiran kita akan melahirkan ucapan dan ucapan kita menjadi tindakan, tindakan-tindakan tersebut apabila konsisten dilakukan akan menjadi sebuah karakter. Jadi pikiran negatif yang menganggap tugas rumah adalah sebuah beban terbukti melahirkan ucapan keluhan sebagai respon, dari mengeluh ini kemudian menimpulkan efek malas dan ogah-ogahan dalam mengerjakan tugas yang diberikan. Dan kalau ini dibiasakan terus-menerus maka akan menjadi sebuah karakter yang membahayakan.
Naudzubillahi min dzalik, bahaya mengancam jiwa kita jika karakter semacam ini melekat dalam diri kita, kita akan menganggap segala sesuatu yang diberikan kepada diri kita dari sisi negatif, sehingga kita merasa berhak mengeluh atasnya. Sebagaimana diterangkan dalam surat Al-Maarij ayat 19-21 yang artinya, “Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan apabila mendapat kebaikan dia jadi kikir.”
Lantas bagaimanakah sikap yang terbaik yang kita lakukan. Kita urai benang kusut permasalahan ini dari ujungnya, yakni semua berawal dari pikiran kita. Alih-alih berpikiran bahwa pekerjaan rumah adalah sebuah beban, kita bisa menanamkan pikiran positif seperti “Alhamdulillah dua hari besok mendapatkan suasana belajar yang berbeda, biasanya di sekolah, besok-besok bisa di rumah” atau “Alhamdulillah, ada tugas buat di rumah jadi punya alasan untuk diajari papa dan mama” de el el. Bermula dari pikiran positif ini maka kata-kata yang spontan terucap adalah kalimat sukur “Alhamdulillah” dah bukannya hanya ujungnya saja “LAH”. Masih berusaha berkhuznudzon, kalimat “LAH” itu sebenarnya Alhamdulillah hanya saja Alhamduli-nya tidak terdengar sehingga hanya LAH-nya saja yang terdengar. Nah, dari ucapan yang positif ini maka akan lahir tindakan yang positif pula, jadi semangat dalam mengerjakan tugas. Dan apabila hal ini secara istiqomah bisa dipertahankan maka akan menjadi sebuah karakter yang luar biasa. ALLOHUAKBAR!
Jadi teringat salah satu tausiyah Aa Gym yang sering diulang-ulang dihadapan murid-muridku. Tentang ilmunya poci, (wah mentang-mentang dari tegal analoginya pakai poci ^_^’) bahwa poci itu hanya mengeluarkan apa yang ada didalamnya. Di dalamnya susu, jika dituang akan keluar susu. Di dalamnya teh, akan keluar teh. Di dalamnya madu, akan keluar madu. Didalamnya tuba, akan keluar tuba. Didalamnya air comberan, akan keluar air comberan pula jika dituangkan. Jadi hati-hatilah dengan apa yang disimpan dalam pikiran kita, itu akan keluar menjadi perkataan, perbuatan dan mengkarakter.
Aku serasa kembali ke momen itu, saat aku berdiri ditengah-tengah lapangan dengan stand microphone, didepan seluruh murid-muridku. Serasa momen itu hadir kembali secara nyata dihadapanku, aku masih ingat bagaimana reaksi murid-muridku waktu itu.  Reaksi yang muncul sebagai umpanbalik atas sesuatu itu sangat wajar, malah harus ada reaksi untuk membuktikan bahwa pesanku sampai pada murid-muridku. Respon positif atau pun negatif tetap harus dihargai, yang penting adalah bagaimana kedepannya semua bisa menjadi pribadi yang lebih baik.
Sebenarnya kalau mau jujur sejujur-jujurnya, tausiyah yang kusampaikan di depan murid-muridku itu adalah titik yang paling ideal. Tetapi setidaknya kalau sudah paham dan ada motivasi untuk melaksanakkannya proses menuju ideal itu menjadi niscaya. (Melirik jam) sudah waktunya istirahat sholat dan makan siang. (melirik agenda) ada janji dengan walimurid yang mau mengambil raport bada dhuhur nanti. (melirik kalender) besok tanggal merah, mertuaku mau berkunjung ke rumah, enaknya dimasakin apa ya? ^_^’.

Translate