Senin, 15 April 2013

Senja, Takut, Hujan dan Malam

Selepas senja yang hening dan syahdu, bercengkerama dengan keramahan malam, di tengah kehangatan lampu yang menyala terang. Disanalah aku dan dirimu, duduk dan berbincang, tentang hari, tentang rasa, tentang takut, tentang amanah, tentang  strategi, tentang kepemimpinan, tentang masa kehadapan.  Kau adalah lelaki yang senantiasa kukagumi, diamnya, pikirnya, candanya, lakunya, bicaranya. Tidak pernah tidak, apa yang berasal darimu selalu bisa dipastikan menyirami diri ini untuk bertumbuh dan bertambah.  Kau adalah lelaki pelindung yang senantiasa tak pernah bosan dan jenuh diri ini untuk merasakan dan menyelami lautan kebajikannya. Yang menjadikan diri semakin yakin sosokmu tak kan pernah tergantikan, dengan apapun dengan siapapun. Tak kan pernah…

Lepas senja ini kau bercerita tentang ketakutanmu. Ketakutan terbesarmu adalah apabila rasa takut hilang dari dirimu. Karena dengan hilangnya rasa takut tersebut orang akan cenderung untuk berani melakukan segalanya tanpa takut termasuk takut pada yang seharusnya kita takuti. Rasa takut itu niscaya ada dan wajib ada, bukan untuk menghentikan langkah kita, tetapi supaya kita jadi waspada dan tahu bagaimana mengatasinya, jadi kita bicara preventif disini. Segala sesuatu yang sudah dipetakan dari awal akan lebih memudahkan kita jika kelak akan berada disituasi tersebut. Sepakat denganmu sayang, semua orang adalah penakut, bedanya ada yang tidak bertindak karena ketakutanya dan ada yang bertindak mengatasi ketakutannya. Super sekali, kutipan kata-katamu, tidak kalah dengan Mario Teguh. Karena super kukutip di tulisanku ini, ikatlah ilmu dengan menulisnya agar tak hilang dan tak terlupa. Sebenarnya tanpa kutulispun aku tidak akan pernah lupa apa-apa yang datang darimu. Karena selalu datang berulang-ulang setiap saat, di setiap ruang, di setiap keberadaan diriku. Belaian kata-katamu menyiramiku, membuatku semakin bertumbuh dan bertambah karenamu dan untukmu, selalu begitu. Selalu menemukan konteksnya…

Berbagi kisah selama membersamaimu membuatku teringat hujan. Ya, hujan. Aku suka hujan. Tahukah engkau kenapa aku suka hujan? Karena hujan selalu mengingatkanku padamu, yang selalu menghujaniku dengan air kebajikan. Ya itu hujan, aku mengenalinya, bukan sekedar siraman, kucuran, aliran, apalagi tetesan. Curahan airnya melimpah dan menyeluruh ke semua ranah. Manfaatnya global dan masif di semua aspek. Karena hujan itu juga rahmat dariNya, itulah hakikat dirimu bagi ku, rahmatNya untukku. Karena hujan adalah saat dikabulkannya keinginan, dan keinginanku adalah tentangmu. Karena hujan adalah air mata langit yang menetes untuk menghapuskan air mataku. Aku suka hujan, karena hujan  adalah representasimu…

Malam pun mengalur mengikuti jalan waktunya, bincang kita tak kan pernah berakhir hanya karena malam tlah begerak menjauh meninggalkan kau dan aku. Karena bincang kita bukan tentang kita yang sedang berbincang-bincang, sebagaimana kebersamaan kita bukan tentang kita yang sedang bersama-sama. Tapi tentang sebuah ikatan di alam jiwa yang sudah terpaut satu dan lainnya, sehingga pejamnya matamu dan mataku bukan berarti bincang kita terhenti, rebahnya ragamu dan ragaku bukan berarti kebersamaan kita tlah berakhir. Kepada malam kusampaikan salam, janganlah mentari lekas segera datang karena aku dan dia ingin lebih lama memelukmu… *)

*) Ay, email-email yang ku kirim ke kamu saat kamu dinas luar kota, yang kutulis karena ku rindu, ku posting di blog yaaaaaaaaaaaa,,,,,, :))

Posting terkait:
Multitalented for Multigiving
Jealous part two (or part three?)

Translate