Jumat, 20 April 2018

Mengajari Anak Bersosialisi


*) Diterbitkan di Majalah Adzkia Indonesia Edisi 90 September 2017

Pertama harus kita sadari bersama bahwa anak-anak kita bukan orang dewasa dalam bentuk mini, jadi jangan pernah samakan mereka dengan kita, mereka tidak punya cara pikir yang sama dengan orang dewasa, anak-anak memiliki dunia dan pemikirannya sendiri. Berangkat dari kesadaran inilah maka tips parenting ini bisa dikembangkan lebih jauh lagi. Berikutnya adalah memahami akan pentingnya sosialisasi bagi anak-anak kita, mengapa sosialisasi itu penting bagi anak-anak kita. Jawaban dari pertanyaan inilah yang akan membuat kita sebagai orang tua, mau tidak mau harus memberikan perhatian lebih untuk mengajari anak-anak kita tentang keterampilan bersosialisasi dengan lingkungannya. Sosialisasi menjadi penting bagi anak karena yang menyumbangkan porsi paling besar dalam kesuksesan seseorang dalam kehidupannya adalah keterampilan sosialisasi dan kemampuan mengelola emosi bukan kemampuan akademisnya.
Dalam kerangka berpikir inilah maka muncul tips-tips dalam membekali anak-anak kita keterampilan bersosialisasi. Bagaimana sikap terbaik kita sebagai orang tua ketika menghadapi anak-anak dengan berbagai persoalannya. Satu contoh kasus yang dilontarkan oleh salah satu kakak dari siswa mengenai adiknya yang sangat cerewet di rumah akan tetapi ketika sudah diluar rumah menjadi sangat pendiam dan introvert. Mungkin kita pernah menemui kasus yang sama dengan siswa yang lainnya juga. Bisa jadi perbedaan sikap antara ketika di rumah dan di luar rumah ini dikarenakan anak merasa tidak percaya atau merasa tidak aman ketika berada di luar rumah maka yang sebaiknya orang tua atau keluarga lakukan adalah melatih anak untuk berani dan mandiri.
Salah satu cara melatih keberanian dan kemandirian anak adalah sedari kecil biasakan anak untuk membantu pekerjaan rumah, bukan sebaliknya justru malah dilarang. Biasanya sebagian dari kita cenderung untuk melarang ketika si kecil dengan rasa ingin tahu, penasaran, dan ingin mencoba yang tinggi mulai pegang sapu, mendekati wastafel, menata-nata meja makan dan lain sebagainya, karena khawatir justru akan membuat pekerjaan jadi lebih berantakan. Namun akibatnya karena dari kecil sudah sering tidak dibolehkan membantu pekerjaan, maka ketika besar orang tua meminta anak untuk membatu pekerjaan rumah, anak akan cenderung menolak. Jadi kuncinya ada di pola pembiasaan.  Implikasi lainnya adalah ketika di rumah rasa ingin tahu, rasa penasaran dan rasa ingin mencoba yang secara naluriah mulai muncul dianak usia tertentu tidak dapat dipenuhi di dalam rumah maka secara otomatis anak akan mencarinya di luar rumah, mencari tahu dari teman-temannya yang juga sama-sama tidak tahu.
Kuncinya di pola pembiasaan yang harus kita praktikan kepada anak-anak untuk mengembangkan ketrerampilan sosialnya. Contoh konkretnya adalah respon kita ketika anak kita mengacaukan sesuatu, memecahkan vas misalnya. Kira-kira respon apa yang akan dilakukan oleh orang tua? Apakah A. memarahi anak, B. “Ya sudah deh, lain kali hati-hati ya”, C. Menanyakan Kenapa?, D. Menanyakan apa yang terjadi?. Mari kita bahas satu persatu, memarahi anak jelas tidak ada gunanya, tidak akan mengubah sedikitpun apa yang sudah terjadi, bahkan bisa melukai jiwa anak. Bersikap permisif, “ya sudahlah, lain kali hati-hati ya”, juga tidak akan membuat anak akan berhati-hati ke depannya. Lantas respon apa yang sebaiknya kita berikan? Yang harus kita lakukan adalah menanyakan kepada anak apa yang terjadi? Tadi ceritanya bagaimana? Jangan tanyakan “Kenapa?” karena kalau kita terbiasa menanyakan anak dengan “Kenapa?” maka akan membuat anak-anak kita mencari-cari alasan untuk pembelaan diri dan pembenaran dirinya, pertanyaan ini membentuk karakter anak yang berapologi.
Berbeda jika kita menanyakan pertanyaan “Apa yang terjadi?” maka anak akan belajar untuk mengambil hikmah, apa yang bisa dipelajari dari kejadian tersebut dan kedepannya apa yang sebaiknya dilakukan. Misalnya, memecahkan vasnya karena sedang memakai baju sambil berjalan. Nasihat “lain kali hati-hati ya” bisa diganti dengan “Berjanjilah pada dirimu sendiri bahwa kedepan tidak diulangi lagi memakai baju sambil berjalan”. Kesadaran dan komitmen anak lah yang sedang dibangun disini. Kesadaran dan komitmen anak bisa dilatih dengan cara sering menanyakan pendapat anak, missal dalam kasus tadi, menurutmu bagaimana memakai baju sambil berjalan? Terus sebaiknya menurutmu kedepan harus bagaimana supaya tidak terulang lagi? biarkan anak melogiskan sendiri nasihat yang kita sampaikan.
Jadi kembali lagi ke poin awal, selalulah menggunakan sudut pandang anak dalam menyelesaikan setiap permasalahan anak. Selanjutnya kita sebagai orang tua juga harus menyadari bahwa orang tua menjadi model bagaimana anak-anak kita bersosialisasi, contoh yang diberikan orang tualah yang membentuk keterampilan sosialisasi pada anak. Salah satu kiatnya adalah dengan sering-sering mengajak anak di acara-acara umum, seperti arisan, silaturakhim, family gathering kantor dan lain sebagainya. Jangan pernah khawatirkan anak akan membuat kacau atau melakukan sesuatu yang memalukan orangtua. Bisa kita jelaskan dan brifing terlebih dahulu anak-anak tentang acara yang akan dikunjungi, dibuat kesepakatan dengan anak, dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang jawaban mereka melogiskan nasihat kita.
Sebenarnya cara kita memperlakukan anak sangat terkait dengan pola asuh, dimana pola asuh secara umum dibagi kedalam tiga, yakni 1) Permisif, yaitu pola asuh yang cenderung membiarkan, membolehkan semuanya, 2) Otoriter, yaitu pola asuh yang semua-semua serba dilarang, banyak aturan tanpa pelogisan, 3) Demokratis, yaitu pola asuh yang melibatkan anak, kita bicarakan terlebih dahulu dengan anak. Dan pola asuh kita sebaiknya menyesuaikan kebutuhan yang dibutuhkan anak pada saat dimaksud.
Kiat berikutnya untuk melatih keterampilan anak adalah dengan permainan group. Setiap generasi mempunyai ciri khas permainannya sendiri,  generasi kita dulu punya permainan-permainan khusus yang mencirikan zamannya. Namun permainan group ini masih relevan dimainkan dari generasi ke generasi. Dalam permainan grup ini anak bermain peran ada yang berperan sebagai polisi dan ada yang berperan sebagai penjahat. Dalam permainan ini anak dibuat mengerti dan memahai bahwa polisi tidak boleh kalah dari penjahat, di kehidupan nyata kebaikan harus selalu mengalahkan kejahatan, kemudian penjahat harus menerima hukuman kejahatannya, dikehidupan nyata jika ada yang berbuat salah maka akan ada konsekuensinya.
Yang tak kalah pentingnya adalah perhatian orang tua untuk memastikan setiap anak mempunyai kemampuan untuk diterima dengan baik oleh teman-temannya, karena kalau kemampuan ini tidak dimiliki oleh anak maka ia tidak mempunyai teman. Dan supaya dia mempunyai teman maka anak akan “membeli” teman, kalau anak tersebut memiliki materi maka ia akan “membeli” temannya dengan materi, namun jika tidak memiliki materi maka si anak ini akan bersedia melakukan apa saja untuk biasa masuk ke pertemanan agar ia mendapatkan teman. Inilah cikal bakal anak-anak kita bergabung dalam “genk”, dia akan melakukan apa saja yang disyaratkan untuk masuk ke dalam “genk” tersebut.
Sebagai orang tua siswa baru yang baru masuk SD kita juga harus “tega” dengan anak, untuk hal-hal yang prinsip, seperti ketika anak mogok tidak mau sekolah karena alasan tertentu, maka sikap kita tetap “memaksa” anak kita untuk berangkat sekolah, dan percaya sepenuhnya kepada sekolah ketika mengantar dan meninggalkan anak, sekolah punya cara untuk membentuk sosialisasi siswa. Tentu dengan tetap adanya dukungan dan pendampingan dari oarng tua di luar sekolah, ketika anak kita ada masalah maka kita ajari dia untuk menyelesaikan masalahnya, bukan lari darinya. Misal, anak ada masalah dengan teman, di pukul teman atau di mintai uangnya oleh teman. Maka ajari cara untuk menyelesaikan masalahnya.
Sedikit berkilas balik kebelakang dizaman kita sekolah dulu, kalau ada anak yang mengadu ke orang tua atau guru maka kita akan diolok-olok teman-teman sebagai tukang ngadu akibatnya kita dijauhi teman-teman karenan dianggap pengadu. Namun seiring perubahan zaman budaya itu sudah tidak ada lagi. menceritakan pada guru atau orang tua apabila ada masalah dengan teman bukan hal yang menakutkan lagi untuk anak sekarang, maka buatkah anak-anak kita nyaman untuk menceritakan setiap masalahnya. Untuk contoh kasus permasalahan diatas, anak kita bisa kita ajari cara menjawab temannya yang suka meminta-minta uang anak kita, misalnya begini “kamu tidak aku kasih uangnya tapi yuk kita belajar bersama, kamu aku ajari matematika” misalnya.
Dan untuk anak-anak yang sulit menceritakan masalahnya dengan kata-kata, media tulis bisa dijadikan sarananya. Minta anak untuk menuliskan apa yang ia rasakan. Jadikan kita tempat yang nyaman untuk anak menumpahkan dan menceritakan semua unek-uneknya. Tetap tegas dan konsisten dengan hal-hal prinsipil, karena sekali saja kita bersikap permisif maka kita akan kehilangan kontrol atas anak kita.
Ingat! Memarahi anak tidak akan membuat anak menurut, semakit sering dimarahi justru akan membuat anak semakin kebal dan membangkang. Bahkan kondisi ekstrim bisa menumbuhkan dendam, kondisi psikologis yang ekstrim pernah terjadi seorang anak yang membantai ibu, bapak dan kakaknya, karena seharian dimarah-marahi. Untuk menghindari hal ini terjadi kalau sudah terlanjur terjadi kita menyelesaikan permasalahan dengan marah maka tidak ada salahnya kita minta maaf. Dan lihat betapa ampuhnya kata maaf ini.
Kesimpulannya secara keseluruhan, selalu dampingi anak di setiap masalahnya, pahamkan dan ajari anak berhadapan dengan berbagai jenis orang yang berbeda-beda, tanamkan keterampilan dasar dan kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi. (Imalia Din Indriasih)

Artikel Terkait:




Translate