Jumat, 20 April 2018

Tantangan Pendidikan Islam Masa Kini


*) Diterbitkan di majalah Adzkia Indonesia Edisi 86 Maret 2017

            Berbicara mengenai tantangan, kita harus memahami terlebih dahulu bagaimana kondisi riil di lapangan sehingga kita bisa menjawab tantangan menjadi kesuksesan. Baiklah kita mulai dengan memetakan persoalan yang tengah kita hadapi di kota kita tercinta, Purwokerto. Sebenarnya kita sudah terkepung oleh sebuah situasi tanpa pernah kita menyadarinya, berikut adalah data tentang kota Purwokerto yang bersumber dari data BNN. Fakta pertama, Purwokerto adalah kota kedua terbesar di Jawa Tengah setelah Semarang dalam hal peredaran narkoba. Analisisnya, dikarenakan di Purwokerto ada Universitas Negeri dimana banyak pendatang dari kota besar.  Selisih harga penjualan narkoba di kota besar lumayan besar, sehingga bandar lebih suka menjualnya di Purwokerto daripada di kota besar, sebagai gambarannya satu gram sabu dijual satu juta rupiah di Jakarta tapi di Purwokerto harganya hampir dua kali lipatnya. Fakta kedua, Purwokerto merupakan urutan dua terbesar dalam jumlah penderita HIV AIDS.
            Fakta lain dari kondisi terkini adalah, sekitar dua tahun yang lalu pernah ada beberapa anak SMP Islam ternama di Purwokerto yang sebenarnya kesalahan mereka hanya keluar malam dan bermain di rental musik, tetapi yang terjadi setelah itu adalah mereka dipaksa masuk ke diskotik salah satu hotel berbintang dan dipaksa menenggak minuman keras disana. Bisa jadi anak-anak yang itu adalah anak-anak yang kita kenal, tetangga kita, murid-murid kita, anak teman kita, teman anak kita atau bahkan anak-anak kita sendiri. Lantas sejauh mana kepedulian kita terhadap fenomena ini. Apa yang sudah kita lakukan untuk menyelamatkan generasi penerus bangsa. Karena seperti yang sudah dipaparkan fakta-fakta diatas arus negatif itu banyak menyerang generasi muda kita yang notabene masih berstatus pelajar. Apakah kita merasa tertantang dengan kondisi tersebut?
            Kecenderungan pelajar sekarang untuk mengikuti trend yang negatif memang cukup tinggi. Salah satu bukti dari keberhasilan ghozwul fikr, yang merusak pikiran pelajar kita sehingga menganggap bahwa budaya yang sudah jauh dari nilai-nilai agama itu dianggap biasa. Motivasi positif yang sangat rendah dari diri pelajar ini membuat siswa kehilangan value yang coba ditanamkan oleh pendidikan di sekolah, nilai guru dimata siswa semakin rendah yang efeknya penghargaan dan penghormatan siswa terhadap gurunya sangat rendah.
            



Kondisi yang seperti itu diantaranya disebabkan oleh lingkungan pembentuk karakter anak. Yang pertama adalah lingkungan yuridiksi sekolah, dimana waktu anak lebih banyak di sekolah dibandingkan dengan di rumah. Sehingga sekolah turut menyumbangkan peran dalam membentuk karakter anak. Yang kedua yuridiksi rumah, biasanya anak yang mempunyai masalah di rumah (broken home), orang tua yang terlalu sibuk, dan juga pola asuh yang terlalu memanjakan anak adalah faktor pembentuk karakter negative pada diri anak. Ketiga yuridiksi negara (Public Area Space), sejatinya inilah yang melatarbelakangi negara untuk mengambil kebijakkan perubahan kurikulum, yakni kondisi kontemporer yang kita hadapi sekarang. Dan karenanya dalam rangka menjawab tantangan kondisi terkini, dunia pendidikan harus menyiapkan strategi yang jitu dan mengena tepat sasaran. Dan apakah strategi untuk menjawab tantangan itu?
            Kita fokuskan pada tugas-tugas kita sebagai seorang pendidik, pertama disiplin dalam menegakkan aturan dan tata tertib yang sudah disepakati bersama. Kedua, menguatkan aqidah anak dengan memaksimalkan pembelajaran integratif dimana semua materi dalam kegiatan pembelajaran dikaitkan dan disampaikan dengan sudut pandang Al Quran dan Hadist. Contoh: pada saat menyampaikan materi IPA tentang terjadinya hujan kita menjelaskan pula bahwa proses tersebut dijelaskan juga dalam Al Quran, Menurut Al-Qur'an dalam surat Ar-Rum ayat 48, proses terjadinya hujan terdiri dari tiga tahapan. "Dialah Allah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya; maka apabila hujan turun mengenai hamba-hambaNya yang dikehendaki, tiba-tiba mereka menjadi gembira."
Ketiga, membangun pembiasaan dan lingkungan yang positif, dengan biah-biah yang mungkin pada awalnya ada kesan dipaksakan kepada siswa akan tetapi dengan memaksakan kegiatan baik ini maka pola yang terus menerus ini akan menjadi karakter. Contoh: buku mutabaah yang berisi: pantauan sholat lima waktu dan sholat sunah, tahsin dan tahfidz, shoum sunah, dll. Keempat, membangun kerjasama dan komunikasi yang baik dengan orang tua atau wali murid guna kesinambungan antara pendidikan yang diberikan di sekolah dengan di rumah sehingga tidak bertentangan satu sama lainnya. Keempat hal diatas adalah semangat yang ditiupkan oleh struktur kurikulum 2013.
            



Hal berikutnya yang harus kita laksanakan untuk menjawab tantangan pendidikan yang sekarang adalah dengan menjawab semua tantangan itu dengan pendidikan Islam. Karena Islam itu sempurna, dan melingkupi semua aspek kehidupan manusia oleh karenanya tidak ada permasalahan apapun yang tidak bisa diselesaikan oleh Islam. Untuk menunjukkan kepedulian kita bahwa kita memang ingin berbuat sesuatu atas kondisi memprihatinkan generasi penerus bangsa adalah dengan memperkuat sekolah-sekolah Islam. Karena di dalamnya diberikan penanaman nilai-nilai Islam. Merupakan tempat mempelajari Al Quran, dari tingkat membaca, memahami sampai mengamalkannya. Sekolah Islam merupakan tempat untuk belajar tentang kebenaran dan akhlaqul karimah.
            Kemudian sampailah kita pada pertanyaan apa yang akan dihadapi oleh pendidikan Islam ketika ia mencoba menyelamatkan degradasi moral generasi bangsa? Ya akan menjadi kerja yang sangat berat bagi semua komponen yang terlibat didalamnya. Karena tantangannya bisa dari luar, bisa berupa serangan-serangan yang melumpuhkan dan membunuh pertumbuhannya. Atau juga dari dalam, berupa ketidakpercayadirian dan ketidakberanian dalam menerapkan nilai-nilai Islam dengan tegas karena takut dianggap beda atau justru sebaliknya sikap sombong karena merasa mempunyai keunggulan dibandingkan dengan lainnya. Tetapi apapun itu dunia pendidikan Islam telah menemukan geliatnya, dan Insyaallah inilah yang kita tunggu untuk menjawab persoalan terkini yang banyak kita hadapi.  (Imalia Din Indriasih) 

Artikel Terkait:
DESAIN KELAS SEBAGAI MOOD BOOSTER DALAM PEMBELAJARAN
BELAJAR EMPATI DARI TEMPAT SAMPAH
GERAKAN SERU! SEMUA ADALAH GURU
MENGAJARKAN ANAK BERSOSIALISASI
MOMENTUM BULAN BAHASA GIATKAN BUDAYA LITERASI SEKOLAH

TANTANGAN PENDIDIKAN ZAMAN NOW


Translate