Jumat, 03 Mei 2013

Ini Tentang Lelaki Senja Edisi Jogja ^_^'




            Kali ini tujuan perjalanan dinasmu ke Jogja. Hanya satu malam sih kamu menginap disana, tetapi itu berarti dua hari aku tidak bisa melihatmu. Rindu, seperti biasanya. Kamu bertanya, kok lelaki senja? tanyamu tatkala membaca tweetku yang merindu lelaki senja. Aku tersenyum, karena setiap hari aku bertemu denganmu selalu di senja hari, sepulangmu dari kantor. Oooo, katamu, iya juga sih. Kamu selalu suka senja. Ya, bagimu senja adalah waktu ketika Tuhan menurunkan berjuta cinta ke bumi. Setelah lelah menjalani hari, jarak yang harus ditempuh akan tetap kau lewati dengan senang, karena kau akan segera bertemu dengan cinta-cintamu (cieeee…) di rumah mungil kita. Senja juga merupakan hulu dari peristirahatan jiwa untuk memulai perbincangan vertikal dengan-Nya.
            Kalau kamu tidak ada senja terasa sunyi, sangat sepi. Semburat merah di langitnya, tak sedikitpun tergores kata. Karena biasanya selepas senja kita selalu berbincang, karena  itulah salah satu waktu kebersamaan yang kita miliki. Tetapi jaman sekarang tidak ada yang bisa membatasi jarak. Semua bisa ditembus dengan teknologi. Wal hasil, twitter, facebook, sms, de el el (cukup kusebutkan tiga saja ya? Kalau kusebut semuanya akan terbaca sangat berlebihan ^_^’) semuanya terhubung kepadamu kalau telpon kurang memungkinkan mengingat kau disana untuk urusan pekerjaan. Terlintas sebuah tanya, apakah senja di Jogja sama dengan senja disini? Tersenyum sendiri, tentu saja, karena kita sama-sama bernaung di langit yang sama.
Berbicara tentang senja memang selalu mengingatkanku padamu, selalu! Namun ada satu lagi yang juga mengingatkanku padamu, kamu pasti tahu apa itu. Pantai! Ya pantai, Kamu selalu suka pantai. Bagimu pantai adalah kanvas luas yang dapat menampung resahmu. Di luas warna birunya yang lembut, di tiap debur ombaknya yang menyaput gelisah, di buih yang tertinggal di pasirnya membekaskan asa. Menjadi salah satu saksi keberadaan kita di sebuah masa.
Senja dan pantai adalah dirimu, hujan dan gunung adalah diriku. Meski berbeda namun semua menyatu dalam sebuah perpaduan yang menurutku sempurna. Sebab senja, pantai, hujan dan gunung adalah sejarah kita. Bolehkah aku menyebutmu sebagai lelaki senja yang senantiasa kurindukan?. Senja ini kuselipkan doa, semoga kau selalu mimpi indah disana, tentang kita.  

Posting terkait:

Translate