Jumat, 12 April 2013

KUNJUNGAN EMPATI


Empati adalah kemampuan untuk menyadari perasaan orang lain dan bertindak (sesuai) untuk membantu. Konsep Empati terkait erat dengan rasa iba dan kasih sayang. Empati merupakan kemampuan mental untuk memahami dan berempati dengan orang lain, apakah orang diempati setuju atau tidak tetapi disini memiliki niat untuk membantu. Empati mirip perasaan simpati, akan tetapi tidak semata-mata perasaan kejiwaan saja, melainkan diikuti perasaan organisme tubuh yang sangat dalam.

Kemampuan untuk memiliki rasa empati ini niscaya diperlukan dipunyai oleh setiap individu oleh karena itu sebagai salah satu program sekolah yang bertujuan untuk habbit forming penanaman softskill pada diri siswa-siswi SD Al Irsyad Al Islamiyyah 01 Purwokerto, pada level lima khususnya, digulirkanlah program “Kunjungan Emphaty”. Program ini dilaksanakan selama dua pekan di bulan April 2013, siswa-siswi level lima, diminta mengorganisir sebuah rencana kunjungan yang bertujuan membantu orang lain yang memang membutuhkan. Jadi selain soft skill empati, kegiatan ini juga melatih jiwa kepemimpinan dan berorganisasi pada diri siswa. Setiap kelompok siswa mendiskusikan dan menentukan sendiri kapan waktunya berkunjung, siapa yang akan dikunjungi, berapa besar infaq masing-masing, apa yang akan diberikan kepada orang yang dikunjungi, tentunya yang paling sesuai dengan kebutuhannya, tidak lupa dokumentasi dan laporan kegiatan pun di organisir oleh siswa sendiri.
 Laporan hasil dan dokumentasi kegiatan dilaporkan dan dipresentasikan di depan semua kelas. Soft skill ketiga yang terbentuk dari kegiatan ini adalah rasa percaya diri dan kemampuan berbicara terstruktur di depan orang banyak. Ustadzah Arini Rosyidah, S.Pd selaku koordinator program mengatakan, dalam kegiatan ini siswa sangat antusias dan melaksanakan program dengan gembira karena mereka merasa bisa memberi manfaat pada orang lain.  (Imalia)

 Fatwa, Gani, Sami dan Fendra mengunjungi rumah Bapak Mujib, seorang kuli bangunan di Beji
 Annisa, Adel, Fatimah, Yumna, dan Hafshah mengunjungi  Ibu Santi seorang tukang pijit di Pamujan

 Baca juga artikel lainnya:
Juara Lomba Cipta Puisi
Video Pembelajaran Multimedia
Satu Lagi Dari SD Al Irsyad 01
Siapa Cepat Dia Dapat 
Bahasa Adalah Jendela Ilmu
Special for Women Only 
Getarkan Dunia Dengan Al Quran  
Habbitforming dengan Veltikultur 
Pilkada lagi Pilkada lagi 
Aku Bisa Menyembelih Ayam Sendiri 
Sung Serrrr... 
Ke Desa Ini Baru Beda 
Jaket, Jaket Apa Yang Bisa Dimakan?
Mas Paul, Bukan Mister Paul

Kunjungi Website Resmi SD Al Irsyad Al Islamiyyah 01 Purwokerto  klik http://sdalirsyad01pwt.sch.id/

Rabu, 10 April 2013

HANYA BERHARAP PADA DOA



Deg-degan! Begitulah yang kurasakan tatkala memasuki ruangan berukuran tujuh kali tujuh meter dengan tulisan Ruang VII tertempel di pintu masuknya. Bel yang berbunyi menandakan kami semua harus memulai perang, ya perang! Hari ini kami semua dipersiapkan untuk berperang.
Teringat hari-hari sebelumnya, selama kurang lebih sembilan bulan terakhir, aku dan teman-temanku dipersiapkan untuk perang ini. Dilatih, digembleng, digodok di kawah candra dimuka, setiap hari hanya berlatih dan berlatih, seakan duapuluh empat jam sehari tidak cukup untuk melaksanakan semua aktifitas kami.
Seandainya egoismeku boleh berpendapat, tentu aku akan berontak melawan. Ini sungguh tidak adil buatku, aku hanyalah manusia biasa yang masih mempunyai keinginan, aku hanya anak-anak yang baru menginjak umur belasan yang masih ingin bebas bermain, bercanda, berhibur dan mendapatkan kesenanganku sendiri.
Tetapi jauh di dalam lubuk hatiku aku mengakui dan menyadari, bahwasannya perang ini adalah salah satu tahap dari kehidupanku yang mau tak mau harus kulewati, bukan hanya sekedar untuk kulalui tapi untuk ku takluki dengan kemenangan yang cemerlang. Agar kelak aku tak malu menatap masa depan.
Beberapa hari yang lalu mataku tertumbuk pada sebuah tulisan yang langsung mendapatkan perhatian penuh dariku. Tulisan di dinding sekolahku itu, membuatku tersadar bahwa aku tidak sendiri, ada jutaan anak di luar sana yang mengalami hal yang serupa denganku. Tulisan di majalah dinding depan kelasku  itu adalah tulisan Anis Faridah, kakak kelasku di SMAIT Al Irsyad yang sudah terlebih dahulu menghadapi perangnya. Tulisan di dinding itu adalah sebuah puisi dengan judul berharap pada doa.

Berharap pada Doa

Satu jam
nadiku terpaku disini
mengaduh pelan
pada sajak-sajak buram

Apa dayaku
kepalang bimbang
menyesap jawaban
akan barisan di sudut tirai
yang tengah menatap tajam
menentang sorot mungilku

Aku pasrah
dalam dentuman detik
menggebu
seolah menyeret paksa
pelipis sendi
yang mengernyit pahit

Kini
perisaiku tinggal sebelah
kusembunyikan di bawah doa
dan ku harap
doaku kan mampu
menopang sejengkal raga

Tepat! Setelah segala ikhtiar yang kalau secara ekstrem boleh kudeskripsikan sebagai mati-matian. Sebenarnya aku punya sebuah harapan besar yang tersimpan dibawah detik-detik waktu yang terus bergulir. Selain dari lembar-lembar latihan, pembahasan soal dan jam-jam tambahan pelajaran.  Yakni doa kami yang diselip di setiap sholat lima waktu, di setiap sepuluh rokaat yang menyertainya, di dua rokaat setelah fajar, di sujud-sujud malam kami, di lembar-lembar halaman al Quran yang kami baca, kami  dipaksa, ditargetkan, dipantau, terus-menerus diingatkan, dicatat dan dilaporkan setiap harinya di lembar muhasabah. Ya, aku akui kalau tidak dipaksa rasanya sulit diri ini untuk melaksanakan semua kebaikan itu. Dan juga aku masih punya harapan dari kekuatan doa orang-orang disekitar kami, ibuku, orang tuaku, guru-guruku, saudara-saudaraku, teman-temanku dan banyak lagi.
Dan hari ini adalah hari yang sudah ditentukan. Aku bertemu dengan salah satu pertempuran dari perang yang harus kujalani. Dengan hati yang sangat berdebar, aku melangkah masuk ke ruang ujianku. Mencoba menyungging senyum, meski beban di jiwa begitu besar memberati langkah diri. Seribu bahkan sejuta “jangan-jangan” berkelebat menggoda diri. Dua orang pengawas dari sekolah lain menyambut kami dengan senyuman seakan turut mendoakan langkah kami. Tapi adanya mereka malah semakin melengkapi ketegangan suasana.
Ketika lembar-lembar itu mulai dibagikan ciut rasanya nyali ini, akankan penaku bisa memilih pilihan yang benar dan tepat dari semua persoalan yang harus kuselesaikan. Jika saja pena ini bergerak hanya berdasarkan kehendakku semata, bisa kupastikan aku tak akan pernah berhasil melewatinya. Memang demikianlah hukum alam, wilayah kita hanya berusaha dengan usaha yang sebaik-baiknya adapun wilayah hasil sama sekali bukan kehendak kita yang mengendalikannya. Maka yang terbaik adalah menyerahkan pergerakan pena-pena kita pada yang Maha Segalanya.
Dan detik-detik pun berlalu tidak akan pernah terhenti kecuali dihentikan oleh sang pemilik waktu, di antara detik-detik ini aku terpaku disini menghadapi perangku sendiri, meski aku tidak sendiri. Pada akhirnya aku tersadar bahwa perangku yang sesungguhnya adalah melawan diri sendiri. Aku murid kelas 6 SD Al Irsyad Al Islamiyyah 01 Purwokerto yang akan menghadapi ujian sekolah dan ujian nasional. Setelah semua yang aku dan orang-orang sekitarku usahakan. Aku hanya bisa berharap pada doa, hanya berharap pada doa…

Baca juga Cerpen lainnya:
Say it please...
Miskomunikasi                           

Kamis, 04 April 2013

JUARA LOMBA CIPTA PUISI



Tidak seperti hari-hari biasanya, pada hari Rabu tanggal 3 April 2013 empat murid SD AL Irsyad Al Islamiyyah 01 Purwokerto berangkat sekolah bukan menuju gedung sekolah mereka sendiri melainkan ke gedung SD Negeri 1 Mersi yang beralamat di Jalan Raya Mersi. Ada apa gerangan? Ternyata empat murid Al Irsyad tersebut akan mengikuti lomba cipta puisi yang merupakan rangkaian kegiatan lomba porseni SD se UPK Purwokerto Timur. Adalah Afif, Marsha, Iza dan Iin empat murid pilihan yang mengikuti lomba cipta puisi ini, mereka sudah datang dari pukul 06.30 berbaur dengan murid-murid SD Negeri 1 Mersi yang tengah menunggu Bel Pelajaran dimulai. Beberapa saat setelah itu para peserta lain pun mulai berdatangan dari berbagai sekolah dasar se UPK Purwokerto Timur.
Pendaftaran dimulai pukul 08.00 tak lama kemudian Lomba dimulai. Diawali dengan penjelasan ketentuan lomba oleh salah satu juri. Babak penyisihan pun berlangsung dengan lancar. Hasil karya peserta lomba langsung dinilai oleh ketiga juri yang berasal dari satu budayawan Banyumas, dan dua orang lainnya guru bahasa Indonesia Senior. Lembar karya peserta tidak diberi identitas nama dan asal sekolah hanya nomor sekolah saja. Setelah kurang lebih menunggu satu jam waktu penjurian diumumkanlah enam besar yang akan lolos ke babak final. Semua peserta beserta guru pendampingnya deg-degan ketika satu persatu nomor peserta dibacakan.
Ternyata hasilnya sungguh sangat mengejutkan sekaligus menggembirakan dari enam besar yang lolos ke babak final empat diantaranya dari SD Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto, menyisihkan sekitar 80 peserta lainnya. Dua peserta dari SD Al Irsyad 01 dan dua peserta dari SD Al Irsyad 02,  satu peserta dari SD Kristen dan satu peserta dari SD Sokanegara. Hasil akhir final lomba cipta puisi ini lebih membanggakan lagi semua kejuaraan juara 1, 2 dan 3 semua disabet habis oleh SD Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto dengan rincian sebagai berikut: Juara 1 : Audrey (SD Al Irsyad 02) Juara 2: Marsha (SD Al Irsyad 01) dan Juara 3: Afif (SD Al Irsyad 01). Seharian mendampingi, memotivasi dan mendukung mereka sama sekali tidak terasa capeknya, semua terbayar lunas dengan piala-piala lambang kebanggaan atas goresan pena yang diakui kualitasnya. Kalian memang luar biasa, teruslah berkarya, goreskan penamu sebagai senjata juangmu! (Imalia)

Baca juga artikel lainnya:
Video Pembelajaran Multimedia
Satu Lagi Dari SD Al Irsyad 01
Siapa Cepat Dia Dapat 
Bahasa Adalah Jendela Ilmu
Special for Women Only 
Getarkan Dunia Dengan Al Quran  
Habbitforming dengan Veltikultur 
Pilkada lagi Pilkada lagi 
Aku Bisa Menyembelih Ayam Sendiri 
Sung Serrrr... 
Ke Desa Ini Baru Beda 
Jaket, Jaket Apa Yang Bisa Dimakan?
Mas Paul, Bukan Mister Paul

Kunjungi Website Resmi SD Al Irsyad Al Islamiyyah 01 Purwokerto  klik http://sdalirsyad01pwt.sch.id/

Senin, 01 April 2013

PLEASE DEH JANGAN LEBAY,,,



Sebelum mulai menulis refleksikan ini dulu say, kamu sudah melakukannya belum Lia? Kalau sudah silahkan lanjut,,, he2,,, kalau belum? Silahkan lanjut juga sambil berusaha melakukannya dengan konsisten. Terkadang suatu hal yang baik itu harus dipaksakan, dibenturkan, di’jedug’kan, di’pentok’kan terlebih dulu baru 'ngeh' deh. Kamu banget ya say? (asking myself).
Nasihat yang terucap pagi ini buat cinta-cintaku, harapan-harapanku, pelangi-pelangi jiwaku, hari-hariku, kebanggaanku, anak-anak didikku, he2, kalau ungkapan tentang mereka boleh dong lebay. Karena mereka memang istimewa dihatiku, diksi deskripsi tentang mereka pun ku pilihkan yang teristimewa. Lantas dalam hal apa kita tidak boleh lebay? Pagi ini mengawali pekan dan juga bulan, senin 1 April 2013, tausiyahku di depan permata-permata yang senantiasa bersinar anak-anakku kelas 5 Ali Bin Abi Thalib yang senantiasa didoakan atas kebaikannya. Nasihat ini berdasarkan fenomena kontemporer yang terjadi:
1.    Kakak kelas kalian kelas 6 sedang menghadapi Ujian, hari ini dimulai dengan Uji Kompetensi II dilanjutkan dengan Ujian Sekolah dan Ujian Nasional, jadi kita saling mendoakan saudara kita yang sedang menghadapi ujian, semoga dimudahkan segala urusannya dan bisa lulus ujian dengan hasil yang terbaik. Yang kedua, kita tidak boleh mengganggu atau mengusik ketenangan saudara kita dalam menghadapi ujian ya nak,,, becandanya, bermainnya, jangan berlebihan (lebay, red), karena berisik dan mengganggu kakak kelas kalian yang sedang menempuh ujian.
2.    Dalam menyikapi segala sesuatu juga jangan berlebihan (lebay juga maksudnya, red), bersikaplah proporsional terutama dalam pemilihan kata. Karena pemilihan kata yang salah bisa dimaknai salah oleh orang lain. Jalinlah persahabatan antar sesama kalian dengan akhlak yang baik dan saling memahami satu sama lain. Tutup semua pintu yang bisa merusak ukhuwah.
Contoh1: Suatu hari Sami pernah tidak membalas SMS Fendra mana kalimat yang betul? A: Sami pernah tidak membalas SMS Fendra atau B: Sami tidak pernah membalas SMS Fendra? Pernah tidak sangat berbeda maknanya dengan tidak pernah meski secara sepintas penulisannya terlihat sama. Kalau sampai terucap kalimat yang pertama pasti maknanya sangat berbeda dengan kenyataanya.
Contoh2: Fatwa menegur Mufid temannya yang makan sambil berdiri. Kalau kalian akan memberi tahu orang lain mana kalimat yang kalian pilih A: Fatwa menasihati Mufid agar makan tidak sambil berdiri. Atau B: Fatwa marah-marah ke Mufid karena makan sambil berdiri? Karena keduanya memiliki nilai rasa yang jauh berbeda bahkan untuk satu konteks realita yang sama. Karena kalau Fatwa melihat tapi diam saja Fatwa juga bersalah, jadi Fatwa harus menegurnya.
Contoh3: Apa yang terlihat bisa saja berbeda dengan apa yang kalian pikirkan, misalnya pada saat pelajaran ada yang tidak tertib, kemudian Zidan temanmu mengingatkanmu untuk tertib dengan cara menepuk bahumu. Kalimat mana yang kalian pilih untuk menceritakannya kepada orang lain. A: Zidan memukulku! Atau B: Zidan memukulku karena tidak tertib C: Zidan mengingatkanku untuk tertib. Kalimat A betul sesuai apa yang terlihat tetapi sangat salah dalam konteks,  kalimat B juga betul tetapi masih kurang bijaksana, untuk anak-anak seusia SD kalimat ini bisa dimengerti, meskipun lebih seru dan menarik menggunakan kalimat A tetapi kalimat C lah yang paling bijaksana, ini permainan kata yang dewasa dan menyenangkan.
3.    Kalau ada temanmu yang terjatuh apa yang kamu lakukan? A: menolong  B: mengejeknya atau C: Membiarkannya? Ternyata murid-muridku cukup tahu memilih pilihan yang tepat. Senantiasa kudampingi dan kudoakan semoga tidak hanya wacana dikelas saja tetapi juga benar-benar terlaksana dalam praktiknya. Aamiin, ya Rabb.
Karena pada hakikatnya setiap kita adalah pembelajar abadi, dan setiap yang ada disekitar kita adalah guru yang bisa kita ambil pelajaran darinya, Maka dalam konteks ini dalam hal tertentu bisa jadi muridku adalah guruku, karena dari merekalah aku banyak belajar. Love you, kids! (Imalia)

*) Tausiyah telah disunting untuk kepentingan bahasa tertulis tanpa merubah isi.

Translate