Sabtu, 21 September 2013

Ajang Tahfizh dan Tasmi’ para Huffazh Muda





“Yang hebat yang menghafal Qur’an dengan giat”, itulah slogan yang didengungkan oleh 138 siswa kelas 4 SD Al Irsyad Al Islamiyyah 01 Purwokerto. Kamis pagi, 19 September 2013. Seolah menjadi hari istimewa, mereka menampilkan kemampuan terbaik dalam hafalan Al Quran pada acara Ajang Tahfizh dan Tasmi’ Al Qur’an. Kegiatan berlangsung di Masjid Agung Baitussalam Purwokerto. Raut wajah penuh keceriaan ditampakkan oleh setiap siswa yang pada hari itu tidak belajar di kelas seperti biasanya, melainkan outclass di masjid yang sejuk dan mendamaikan.
Semangat membaca dan menghafal Al Quran sangat dijiwai oleh para generasi muda muslim tersebut. Beberapa murid yang ditunjuk maju ke depan dengan percaya diri untuk menampilkan hafalan Al Quran juz 30 diawali oleh ananda Alfandi Handy Fabian dari kelas 4 Ibnu Abbas dan ananda Nadiva Aulia dari kelas 4 Ibnu Umar yang melantunkan Surat AnNaba dan dilanjutkan penampilan oleh beberapa siswa yang melantunkan Surat AnNazi’at sampai Al Insyiqoq. Seluruh siswa pada saat itu mendengarkan dengan khusyu’ ayat-ayat yang dilantunkan sambil membuka Al Quran masing-masing.
“Kegiatan ini merupakan ajang aktualisasi diri bagi siswa yang selama ini telah berusaha untuk menghafal AlQuran. Melalui ajang tahfizh dan tasmi’ ini diharapkan para siswa semakin termotivasi untuk menghafal Al Quran” ungkap ustazh Rahmat Safari selaku wakil Kepala Sekolah level IV. “Tahfizhul Quran merupakan salah satu program unggulan di SD Al Irsyad Al Islamiyyah 01 Purwokerto. Pembelajaran yang dilaksanakan diantaranya Ajang Tahfizh dan Tasmi’, tahfizh harian, dan tahun ini akan mengadakan pemilihan siswa teladan Al Quran” kata ustadz Rahmat Safari.
Sedangkan Kepala Sekolah, ustadz Sudrajat menambahkan bahwa kegiatan menghafal AlQuran perlu sedini mungkin dibiasakan pada diri siswa, karena masa anak-anak adalah masa keemasan dengan kemampuan memori yang kuat. Hafalan AlQuran yang diperoleh pada masa kecil diharapkan dapat menjadi bekal berharga bagi mereka di masa depan, sehingga terwujud generasi yang Qurani tanpa meninggalkan penguasaan ilmu pengetahuan. “Bagi siswa yang dapat menghafal AlQuran dengan baik dan mencapai prestasi di bidang Al Qur’an akan mendapatkan reward dari sekolah sebagai bentuk pengghargaan dan motivasi bagi siswa yang lain agar semakin giat menghafal Al Quran” ungkap ustadz Sudrajat.
Acara tersebut juga diisi dengan lantunan hafalan dari ustadz Arian Sahidi Alhafizh yang membawakan Surat Al Qiyamah sampai Al Mursalat. Setelah menampilkan hafalannya, ustadz Arian yang juga merupakan seorang penulis buku menceritakan pengalamannya selama menghafal AlQuran. Tak berhenti sampai disitu saja, para siswa mendapatkan pengalaman berharga bagaimana menghafal AlQuran dengan mudah dan menyenangkan. Acara ditutup dengan pembagian reward bagi siswa yang tampil ke depan.  (Humas Level 4)

Baca juga artikel lainnya: 
Siswa SD Berlatih Displin Lalu Lintas
Juara Lomba Cipta Puisi
Video Pembelajaran Multimedia
Satu Lagi Dari SD Al Irsyad 01
Siapa Cepat Dia Dapat 
Bahasa Adalah Jendela Ilmu
Special for Women Only 
Getarkan Dunia Dengan Al Quran  
Habbitforming dengan Veltikultur 
Pilkada lagi Pilkada lagi 
Aku Bisa Menyembelih Ayam Sendiri 
Sung Serrrr... 
Ke Desa Ini Baru Beda 
Jaket, Jaket Apa Yang Bisa Dimakan?
Mas Paul, Bukan Mister Paul

Kunjungi Website Resmi SD Al Irsyad Al Islamiyyah 01 Purwokerto  klik http://sdalirsyad01pwt.sch.id/

Rabu, 24 Juli 2013

TEAM HEBAAAT…!!!



          Bahagiaku begitu membuncah tahun ini tatkala aku tahu kalau aku dipertemukan lagi dengan mereka. Rindu setelah kurang lebih dua tahun tak membersamai mereka  sedikit banyak sudah terobati. Kulihat di binar mata-matanya sepertinya rinduku tak bertepuk sebelah tangan, rinduku berbalas rindu, semoga ku tak salah membaca.
          Bahagiaku bisa mendampingi kalian lagi, bersama kita akan merajut kebersamaan yang indah setahun kedepan. (Semoga juga tahun-tahun berikutnya.. he..he..) Semoga Allah senantiasa merahmati sepanjang waktu kebersamaan kita. Selalu kupintakan doamu semoga aku bisa menjadi yang terbaik yang kalian butuhkan. Dan seperti biasanya aku tak pernah berhenti mengakui bahwa diri ini selalu membanggakan kalian.
          Bahagiaku bisa melihat senyum kalian, sapa dan salam hangat yang selalu kunantikan di waktu pagiku dan di waktu hariku. Celoteh riang dan canda yang kita alami dalam bingkai persaudaraan yang indah karena kita diikat iman yang sama. Ilmu dan manfaat yang saling kita bagi semoga menjadikan kita menjadi pribadi yang baik dimata pencipta kita.
          Kutorehkan nama-nama indah di dinding kelas, buku-buku administrasi, buku tulisku, laptopku, phonebookku, social mediaku, blogku, dan tentu saja dihatiku yang akan selamanya tersimpan disana… PUPUT, DYLA, LALA, ALFIN, FIAN, CINDY, ANDHIKA, SILA, RANI, AZHAR, AZREL, BERTHA, DEVAN, BELDA, ELSA, ADEL, ODI, NANDA, JELITA, HILMI, BRAM, TATA, KEKEY, KHANZA, DHANTA, MIRZA, RIFKY, KARIN, GINA, GHAZY, ICA, RESKA, AURELL, SYAFIQ , RARA… Empat Ibnu Abbas 2013, team yang hebaaat…!!!
          Untuk kalian mutiara dan permataku, salah satu sumber bahagiaku kupersembahkan doa dan pemberian terbaik, mungkin tidak seberapa, namun ada secuil harap terselip di kalbu, semoga aku bisa menjadi salah satu bagian dari hidup kalian yang akan selalu kalian kenang dengan kenangan yang indah. Aamiin ya Rabb…

Senin, 01 Juli 2013

Mungkin…



Mungkin harus dimulai dulu langkah pertama. Mungkin setelah langkah pertama dilaksanakan hal berikutnya yang harus dilakukan akan tertunjukkan. Mungkin tidak harus ada ide dulu baru memulai. Mungkin memulai terlebih dahulu baru ide bermunculan. Mungkin juga tidak harus dimulai dari awal. Mungkin bisa dari tengah atau belakang terlebih dahulu. Mungkin deduktif, naratif, deskriptif dan induktif bisa jadi pilihan. Mungkin juga…

Mungkin ini bukan tentang apa-apa. Mungkin ini tidak pernah menjadi apa-apa. Mungkin memang tanpa maksud apa-apa. Mungkin seharusnya tidak terjadi apa-apa. Mungkin tidak ada apa-apa. Mungkin dari semula tidak pernah ada apa-apa. Mungkin akan selalu begitu. Mungkin akan selamanya begitu. Mungkin sudah seharusnya begitu. Mungkin akan jadi begitu. Mungkin begitu…

Mungkin ini tentang kamu. Mungkin juga tidak. Mungkin ini tentang aku. Mungkin juga tidak. Mungkin ini tentang dia. Mungkin juga tidak. Mungkin ini tentang kita. Mungkin juga tidak. Mungkin ini tentang kami. Mungkin juga tidak. Mungkin ini tentang mereka. Mungkin juga tidak. Mungkin ini tentang aku, kamu, dia, kita, kami dan mereka. Mungkin juga tidak…

Mungkin selamanya ini tak kan mungkin. Mungkin selamanya akan jadi rahasia tak tersibak. Mungkin selamanya akan terus begini. Mungkin akan jadi sebuah perjalanan yang panjang dan melelahkan. Mungkin akan selalu bertemu tikungan tajam, tanjakan dan turunan curam juga jurang lengkap dengan onaknya. Mungkin juga sebuah perjalanan yang indah yang senantiasa dinikmati tiap jengkal pemandangannya. Mungkin hanya masalah persepsi. Mungkin saja…

Mungkin ada hal yang tak pernah terjelaskan. Mungkin ada yang tak pernah di beri berani untuk bertanya. Mungkin ada yang sangat pintar menahan rasa. Mungkin selamanya akan jadi rahasia. Mungkin selamanya akan dianggap tak pernah ada. Mungkin akan ada penyangkalan. Mungkin akan ada pengabaian. Mungkin akan ada yang terluka. Mungkin saja semuanya berakhir bahagia. Mungkin bisa…

Mungkin terasa seperti benang kusut yang tak teruraikan. Mungkin terlekat makna yang tak bisa dijelaskan. Mungkin hanya ada satu kemungkinan jawaban. Mungkin hanya kamu si pemilik jawaban. Mungkin memang tidak ada pertanyaan. Mungkin harus ada penjelasan. Mungkin tidak harus dipermasalahkan. Mungkin harus…

Mungkin hidup tidak seperti yang dipikirkan. Mungkin kenyataan berbeda dengan yang dibayangkan. Mungkin aku persis seperti yang kamu pikirkan. Mungkin kamu tidak seperti yang kupikirkan. Mungkin kita tidak seperti yang terlihat. Mungkin kata tidak seperti yang terasakan. Mungkin suara tidak seperti yang disimpulkan. Mungkin cerita tidak seperti yang terbaca. Mungkin hanya perasaanku saja…

Mungkin semakin tidak jelas pokok persoalan. Mungkin justru itulah intinya. Mungkin ketidak jelasan adalah ide pokoknya. Mungkin bertanya-tanya sedang membicarakan apa. Mungkin juga tidak perduli sama sekali. Mungkin tidak perlu di tafsirkan. Mungkin adalah mungkin yang tidak pernah menjadi pasti. Mungkin…

Rabu, 05 Juni 2013

Computation


         Yes, I knew that we shouldn’t said we don’t like on something but I couldn’t denied that I rather didn’t like mathemathics and everything related with counting.  The reason? We shouldn’t have any reason to unlike on something, should we? But if I should said so,  let say, it wasn’t my cup of tea. Well, I’d prefer to choose language into my cup of tea. On the contrary, I still found computation on language, hahaha. Seem like I should make up my mind again…
          Just like what happened to Imam As Syatibi which never dichotomized a knowledge become parts, all knowledge is all influence one another as well as related each other.  It is recorded in his own phrase in introduction of Al I’thisam “… Since my brain and my soul open to understanding is always directed to examine all of the science, good logic, syariah, fiqh (the points in religion) and furu (branches in religion). I never restricted a science without other science and not alienate the other one kind of knowledge of the othertypes, …”
Strengtened by Said Hawa in “Task of Supervisor and Lecturer”, one of those was they should never insult another knowledge because of different from their subject, student should receive all as integrated knowledge.
It’s proven now, I’d found some computation in language, means that I should count and think with mathematics logic. I should pay close attention to the number, espcesialy  those in relation to time, prices, or numerals such as three, a hundred, and others words like half, twice, etc.
For instance these conversations:
A: My new digital camera can store two hundred pictures
B: Wow! That’s super. Mine can only store a hundred.
C: How does A’s digital camera compare with B’s?
I should count, shouldn’t I? and the answer will be A’s camera has twice capacity of B’s. Because two hundred is one hundred multiply by two. Another example:
A: Your shoes is so marvelous, it’s must be expensive?
B: Not realy, on price tag it’s written 400.000 rupiahs, but I have 50% off.
C: How much does B’s should pay for the shoes?
Again, I should count. 50% of 400.000 is 200.000 and 400.000 substracted by 200.000 equals to 200.000 so B’s should pay 200.000 rupiahs for the shoes. More instance:
A: I would like to buy two dozen of keychains, how much it’s price?
B: two thousands and five hundreds each, and seven thousands for three.
C: How much does A’s should pay for the keychains?
MasyaAllah, it getting more complicated. Let me check my logic, hhmm two dozen are twenty-four, then twenty-four divided by three, it will be eight then I should multiply eight with seven thousands and the result is equal to fifty-six thousand rupiahs. Okey those about the number and the price let’s check another example about the time:
A: Excuse me! I have appointment with Mr. John at 09.00 but I had already arrive earlier from another town. Can I cange the meeting one hour earlier?
B: Let me check his schedule, yup, the schedule is available.
C: What time the meeting will be held?
One hour earlier from 09.00 is 08.00 so the answer is 08.00.
A: What time is it now?
B: It’s twelve. But my watch is five minutes to late than the real one.
C: What time is it now exactly?
It should be twelve past five.

          Well, Lia, from now on you should considering about teach mathematics, ups not that far, start with trying to like mathematics just like you enjoying language. In other words, make mathematics as one of your cup of tea. Worth try… 
Posting terkait:

Translate